Minggu, 23 Mei 2021

Santa Perawan Maria Bunda Gereja

 

Yoh 19:25-34

 

“Kasih ibu kepada kepada beta, tak terhingga sepanjang masa. Hanya memberi, tak harap kembali. Bagai sang surya menyinari dunia”. Inilah sepenggal syair lagu lawas “Kasih Ibu”, ciptaan SM Mochtar, yang tetap melegenda, menarik, dan menyentuh hati kita semua. Syair lagu yang berisikan kata-kata sederhana tetapi mengandung makna yang sangat dalam. SM Mochtar dalam lagu tersebut mau menggambarkan sifat kasih seorang ibu yang diasosiasikan seperti sang surya. Terus menyinari dunia tanpa henti dan tanpa rasa jenuh. Itulah karakter seorang ibu yang tidak pernah berhenti dan bosan mendedikasikan kasihnya kepada anak-anaknya. Walaupun seringkali, sang ibu tidak mendapat rasa hormat, cinta dan perhatian dari anak-anaknya, namun ia tidak pernah berhenti untuk menyatakan rasa kasihnya. Kasih ibu memang tetap abadi. Tidak pernah lekang atau luntur dalam waktu.

 

Hari ini kita memperingati pesta Santa Perawan Maria Bunda Gereja. Peringatan Santa Perawan Maria Bunda Gereja secara resmi diperingati pada setiap hari Senin setelah hari Pentekosta (yang diperingati dan dirayakan pada hari Minggu). Keputusan ini disampaikan oleh Paus Fransiskus melalui Kongregasi Ibadat Ilahi pada tanggal 11 Februari 2018. Paus menyatakan bahwa Bunda Maria memiliki peran penting dalam gereja. Sebagai anggota gereja, kita merayakan peringatan ini untuk menumbuhkan penghormatan kepada Maria sebagai ibu Gereja. Maria selalu mengiringi perjalanan gereja, yakni persekutuan umat Allah yang percaya kepada Yesus. Bersama Maria, para murid menantikan Roh Kudus yang dicurahkan kepada gereja. Mereka dibimbing oleh roh kudus untuk menjadi saksi Kristus dimana dan kapan saja mereka berada.

 

Bunda Maria adalah contoh teladan orang beriman kristiani yang sejak awal turut ambil bagian dalam karya penyelamatan Allah. Dengan keteguhan hati dan kesederhanaannya, Maria menyatakan kesediannya untuk menerima kabar sukacita dari malaikat Gabriel untuk mengandung dan melahirkan Sang Putera Fajar, Yesus Kristus. Maria juga mendampingi Yesus sejak sejak masih bayi, masa kanak-kanak, dan menjadi dewasa. Maria sungguh merasa bahagia karena menjadi seorang perempuan yang spesial di mata Allah. Ia mendapat berkat ilahi khusus, menerima pinangan Allah untuk menjadi ibu Yesus. Sebuah status ilahi yang kemudian menghantar Maria menjadi ibu gereja. Ia menjadi perempuan tanpa noda dan dosa, dibebaskan dari dosa asal oleh karena kemuliaan hatinya menjadi ibu bagi Yesus.

 

Sukacita acapkali beriringan dengan dukacita. Dan suasana ini sungguh dirasakan oleh Maria. Sebuah pilihan yang memiliki konsekuensi yang maha berat. Sebagai ibu sang putera fajar, tentu Maria tidak hanya mengalami pengalaman yang menyenangkan. Dalam sukacita besarnya sebagai ibu Yesus, Maria sungguh diuji dan ditantang untuk mengalami pengalaman penderitaan dan dukacita bersama Putera-Nya. Ia harus menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri, bagaimana Putera-Nya dihina, difitnah, disiksa, dianiaya, dan disalibkan pada kayu salib. Sebuah lambang penghinaan dalam tradisi umat Israel kala itu. Tetapi Maria tetap sabar dan teguh hati. Tidak pernah goyah sedikit pun semangat keibuannya untuk pergi meninggalkan Yesus. Maria sadar, inilah risiko yang harus ditanggungnya sebagai seorang mitra Allah. Jalan penderitaan ini harus dilewatinya bersama Yesus sampai ke puncak kalvari. Karena hanya dari sanalah, akan segera terbit rahmat keselamatan bagi segenap umat manusia.

 

Setelah kepergian Yesus, Maria juga tetap dengan penuh kasih dan setia mendampingi para murid, melanjutkan karya penyelamatan Allah di tengah dunia. Maria memegang dengan teguh amanat yang telah disampaikan oleh Yesus. “Ketika Yesus melihat ibu-Nya dan murid yang dikasihi-Nya di sampingnya, berkatalah Ia kepada Ibu-Nya: “Ibu, inilah, anakmu! Kemudian kata-Nya kepada murid-murid-Nya: inilah ibumu” (Yoh 19:26-27). Semangat kasih, kesetiaan, dan totalitas Maria sebagai seorang ibu tidak pernah diragukan. Bersama para murid, Maria tetap berjalan dalam semangat panggilannya untuk mewartakan kasih Allah. Dalam Rahim Maria, tidak hanya lahir Yesus sang penyelamat umat manusia, tetapi lahir juga gereja, yang menjadi tanda nyata kehadiran Yesus dan Allah di muka bumi. Maria telah menjadi sarana keselamatan bagi umat manusia, oleh karena Yesus, dan misi keselamatan yang terus dilanjutkan oleh Gereja hingga saat ini.

 

Maka tepatlah gereja Katolik menghormati dan menghargai peranan Bunda Maria dengan menetapkan hari ini sebagai pesta peringatan Santa Perawan Maria Bunda Gereja. Ada dua sikap Bunda Maria yang ditonjolkan oleh penginjil Lukas. Pertama, sikap hati menerima hal-hal yang terjadi pada dirinya dengan iman. “Kata Maria: Sesungguhya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah menurut perkataanmu itu. Lalu malaikat itu meninggalkan dia” (Luk 1:38). Kedua, sikap sabar menanggung segala sesuatu yang terjadi di dalam hidupnya. “Lalu Yesus pulang bersama-sama dengan mereka ke Nazaret; dan Yesus tetap hidup dalam asuhan mereka. Dan ibu-Nya menyimpan semua perkata itu di dalam hatinya” (Luk2:51).

 

Maria Bunda Gereja, telah dan akan selalu menjadi representasi para ibu masa lalu, masa kini dan masa yang akan datang, yang senantiasa memancarkan wajah kasih Allah yang penuh dedikasi, kerendahan hati, kelembutan, kesetiaan, kesabaran, pengorbanan, kejujuran, dan pelbagai nilai yang lainnya. Maria Bunda Gereja, laksana sang surya yang menyinari dunia. Ia akan selalu mendampingi hidup kita dalam untung dan malang. Ia hadir dalam setiap doa dan harapan yang kita lambungkan kepada Allah. Kekuatan doa kita semakin mujarab karena dibawa oleh Maria melalui perantaraan Putera-Nya Yesus Kristus. Oleh karena itu, jangan pernah ragu untuk menjadikan Maria sebagai ibu kandung dalam iman kristiani kita. Mari kita jadikan Maria Bunda Gereja yang selalu menolong dan menguatkan pengalaman hidup kita di tengah dunia.

 

Hendaknya kita juga meneladani segala nilai dan keutamaan yang dimiliki oleh Maria seperti sikap sabar, setia, rendah hati, jujur, lemah lembut, dan mau berkorban dan berjuang dengan sepenuh hati dalam setiap panggilan dan tugas kita. Semoga kita dapat mempersembahkan jati diri kita di bulan Maria, bulan yang penuh rahmat ini, untuk mengimplementasikan segala kebaikan dan nilai positif seperti yang telah ditunjukkan oleh Bunda Maria sendiri. Amin. ***AKD***

 

Selasa, 18 Mei 2021

Doa Sebagai Jalan Pertama Menuju Kebaikan

 

Yoh 17: 11b-19

 

Pernah pada suatu ketika, saya merasa hidup saya berada dalam situasi batas. Beban hidup yang besar, jauh melampau kemampuan saya untuk memikulnya, membuat saya tidak berdaya. Saya juga merasa kurang mendapat dukungan dari keluarga besar. Hal ini yang semakin mengurung diri saya dalam kesendirian. Tetapi apa pun situasinya, saya mencoba menguatkan diri untuk tetap kuat dan tidak putus asa. Dalam situasi pelik demikian, secara tidak disengaja, saya bertemu dengan seorang imam (pastor) di suatu tempat. Kebetulan saya mengenal beliau (imam) cukup dekat. Saya lalu memohon apakah ia bisa memberikan berkat untuk saya. Dengan senang hati, sang imam mau memberikannya. Ia memulai berkatnya dengan untaian doa yang indah dan sangat menyentuh hati. Dan ia mengakhirinya dengan memberi tanda salib di dahi saya. Seolah-olah ia tahu apa yang sementara berkecamuk dalam hati saya. Saya merasa diteguhkan dan dikuatkan dengan doa dan berkat dari sang imam. Saya merasa lebih yakin, bahwa kuasa Tuhan melalui tangan sang imam, sementara mengalirkan berkat-Nya, agar saya dimampukan untuk menghadapi kesulitan hidup yang saya alami.

 

Hari ini Yesus juga mendoakan para murid-Nya agar mereka juga bisa dikuatkan dan diteguhkan dalam mengarungi perjalanan hidup mereka sebagai seorang pewarta kabar gembira. Yesus menyadari ada banyak sekalih tantangan dan kesulitan hidup yang akan dialami para murid sepeninggalan Diri-Nya menuju Rumah Bapa. Tantangan itu pertama-tama datang dari luar kelompok para rasul. Akan ada banyak orang dari berbagai kalangan yang tidak setuju dan tidak menyukai kehadiran mereka. Para murid akan mendapat hinaan, cercaan, fitnah, dan nyawa mereka akan menjadi taruhan. Selain tantangan dari luar, ada juga tantangan dari dalam kelompok mereka. Dan ini menjadi tantangan terdasyat yang menguji kekompakan, kesetiaan, dan militansi mereka sebagai seorang murid Yesus. Akan timbul rasa iri, marah, kecewa, dan dendam kesumat yang menggerogoti kesolidan kelompok para murid. Jika para murid tidak berhati-hati dan bersikap ceroboh, maka misi keselamatan Allah yang diwariskan Yesus kepada mereka, terancam macet dan gagal diwujudkan.

 

Untuk mengantisipasi muculnya segala kemungkinan terburuk yang akan menimpa para murid, Yesus pun berdoa kepada Sang Bapa. Sebuah doa yang sangat istimewa bagi para murid. Ada beberapa point penting dari doa Yesus yang bisa kita tangkap dari bacaan Injil (Yoh17:11b-19). Pertama, supaya Bapa di sorga dapat memelihara para murid dalam nama-Nya yang kudus agar masing-masing pribadi menjadi satu dan bersaudara. Kedua, supaya Bapa di sorga dapat menjaga para murid agar mereka dapat memperoleh keselamatan dan hidup abadi. Ketiga, supaya Bapa dapat melindungi para murid dari maut dan dosa (kejahatan). Keempat, supaya Bapa menguduskan para murid dalam kebenaran. Keempat kata kunci dalam doa Yesus yakni memelihara, menjaga, melindungi dan menguduskan supaya para murid menjadi serupa dengan Diri-Nya.

 

Doa Yesus kepada Bapa bagi para rasul menjadi doa untuk kita juga. Para murid di masa kini. Tuhan menaruh belaskasihan akan terpaan atau badai yang akan dan sedang menimpa diri kita. Tantangan iman itu sungguh dasyat sehingga Tuhan perlu juga berdoa untuk kita. Tantangan itu tidak saja datang dari luar tetapi seringkali datang dari dalam diri dan kelompok. Acapkali muncul rasa iri hati, kecewa, sakit hati, marah berlebihan yang mengikis rasa persatuan dan kekompakan kita. Tidak hanya antara sesama saudara seiman, tetapi juga dengan saudara/i yang berbeda keyakinan iman dengan kita. Rasa persaudaraan dan kekeluargaan kita menjadi rapuh dan goyah. Masing-masing orang semakin menaruh curiga dan prasangka sehingga menciptakan api konflik semakin besar.

 

Mirisnya, para pengikut Yesus tetap berada dalam pusaran kebencian dan balas dendam. Tidak ada lagi setitik kebaikan ketika rasa ego dan gengsi sudah menguasai diri. Masing-masing orang merasa diri paling benar. Tidak ada yang mengaku salah dan meminta maaf. Tidak ada ruang perdamaian untuk dapat duduk dengan kepala dingin demi menyelesaikan segala persoalan. Manusia sudah menjadi serigala bagi sesamanya (homo homini lupus). Yang ada hanya saling klaim untuk menegaskan eksistensi pribadi masing-masing. Pintu hati kita bagi sesama sudah tertutup. Apalagi kepada Tuhan. Hati kita menjadi sangat tertutup untuk tidak lagi mendengarkan firman-Nya.

 

Hari ini Tuhan mendoakan agar kita bisa menjadi seorang murid-Nya yang total. Tidak setengah- setengah. Menjadi murid yang total berarti kita mau menjaga rasa persatuan, persaudaraan, dan kekompakan dengan mengikuti jalan kebenaran yang telah diwartakan-Nya. Kita bisa menjadi pribadi yang mampu mengolah emosi kita dengan bijak. Kita bisa meredam rasa iri hati dan marah yang berlebihan kepada orang lain. Kita bisa menjadi pribadi yang pemaaf dan mau meminta maaf apabila bersalah. Kita bisa menjadi seseorang yang bisa melepaskan ego dan gengsi demi sebuah nilai yang lebih tinggi.

 

Dan kuncinya adalah sebuah doa.Tuhan sudah membawa kedamaian dan kekuatan bagi para rasul dan kita semua melalui sebuah doa. Maka, kita juga perlu saling mendoakan satu sama lain agar bisa berjalan dalam kebenaran-Nya. Doa menjadi jalan pertama bagi kita semua untuk mewujudkan kasih Tuhan dalam tindakan konkrit. Sebelum kita berbuat segala hal yang baik kepada sesama, kita perlu berdoa, memohon petunjuk dan kekuatan dari-Nya. Doa menjadi roh dalam setiap kata-kata dan tindakan kita yang positif. Tanpa doa, segala hal baik yang kita lakukan menjadi tawar, “tidak bernyawa”, dan tidak bermakna. Kita tidak akan pernah tulus dan total melakukan segala hal yang baik jikalau tidak mengawalinya dengan menyerahkan diri kepada Tuhan dalam sebuah doa.

Doa adalah jalan pertama menuju kebaikan. Doa tidak hanya memberi kita energi untuk tetap kuat dan bertahan dalam segala ujian dan tantangan. Doa menjadi daya dorong yang kuat agar kita bisa menjadi saluran berkat dari Tuhan yang menciptakan kebaikan dan keselamatan bagi siapa saja. Mari kita saling menguduskan dalam Tuhan dengan cara saling mendoakan satu sama lain. Semoga. ***akdl***

Rabu, 12 Mei 2021

Roh Kebenaran Sebagai Jaminan Hidup

 (Yoh 16: 12-15)

Dalam hidup ini, kita membutuhkan jaminan agar bisa tetap eksis atau bertahan hidup. Kita membutuhkan jaminan pekerjaan supaya bisa mendapatkan uang untuk memenuhi pelbagai kebutuhan. Anak-anak membutuhkan jaminan kasih dan perhatian dari orang tua agar bisa bertumbuh dan berkembang dengan baik. Orang muda membutuhkan jaminan kepercayaan dan kesetiaan dalam membangun sebuah hubungan khusus bersama calon pasangan hidupnya. Suami dan istri juga membutuhkan jaminan cinta, kesetiaan, dan kepercayaan agar hubungan mereka tetap langgeng sampai mati. Ada banyak orang juga menjaminkan hidupnya dalam bentuk asuransi. Misalnya asuransi pendidikan, asuransi kesehatan, asuransi kecelakaan kerja, asuransi hari tua, asuransi rumah, dan sebagainya. Orang menyadari betul hakikat dan tujuan dari sebuah jaminan hidup sehingga mereka mau mengikuti segala persyaratan dan aturan yang ditetapkan.  

 

Di atas semua itu, ternyata Yesus juga memberi sebuah jaminan hidup kepada kita umat manusia. Di hadapan para murid-Nya, Yesus memberi jaminan akan datangnya entitas ilahi yakni Roh Kebenaran. Roh kebenaran ini yang kita kenal dengan Roh Kudus. Roh Kebenaran akan menggantikan peran Yesus di muka bumi. Tetapi bukan berarti Roh Kebenaran ini berdiri sendiri dan tidak berasal. Roh kebenaran atau roh kudus itu berasal dari Allah dan dihembuskan oleh Yesus. Dengan demikian, Roh Kebenaran sebagai pribadi ketiga memiliki status yang sepadan dengan Allah dan Yesus. Ia memiliki keterikatan dengan Bapa dan Putera dan selalu bekerja atas nama Mereka (Bapa dan Putera). “Segala sesuatu yang Bapa punya, adalah Aku punya; sebab itu Aku berkata: Ia akan memberitakan kepadamu apa yang diterima-Nya dari pada-Ku” (Yoh 16:15).

 

Rupanya para murid masih berada dalam kebingungan dan keragu-raguan apakah mereka masih bisa tetap eksis tanpa kehadiran Yesus. Hal ini bisa dimaklumi karena selama hidup bersama-sama dengan Yesus, mereka begitu bergantung dan menaru harapan besar pada Yesus. Meskipun mereka telah belajar dan mendapatkan banyak hal dari Yesus, mereka tetap merasa kurang dan tidak percaya diri. Yesus memang telah memberikan jaminan akan kehadiran roh penolong, tetapi para murid-Nya belum sepenuhnya paham. Oleh karena itu, Yesus tidak mau mengatakan banyak hal. Karena Ia yakin, akan tiba saatnya para murid akan mengalami pencerahan dan peneguhan secara otomatis.

 

Pencerahan dan peneguhan yang diterima oleh para rasul tentu saja berkiblat pada pencurahan Roh Kebenaran (Roh Kudus) dalam diri para murid. Para rasul akan mendapatkan banyak pengetahuan, aneka kebijaksanaan, dan keberanian membara yang tidak pernah dialami sebelumnya. Mengenai eksistensi Roh Kebenaran, Yesus berkata: “Tetapi apabila Ia datang, yaitu Roh Kebenaran, Ia akan memimpin kamu ke dalam seluruh kebenaran” (Yoh 16:13). Roh Kebenaran akan menuntun, membimbing, dan menguatkan karya kerasulan para murid untuk mewartakan warta keselamatan kepada segenap umat manusia.

 

Dalam Katekismus Gereja Katolik diajarkan: “Aku percaya kepada Roh Kudus berarti aku menyembah-Nya sebagai Allah yang sama dengan Bapa dan Putra. Hal ini berarti kita percaya bahwa Roh Kudus memasuki hati kita supaya kita menjadi anak-anak Allah, dapat mengenal-Nya. Kita semua juga bisa mengubah wajah dunia dengan bantuan Roh Kudus (KGK art.683-686). Para rasul sudah membuktikan kedasyatan karya Roh Kebenaran dalam panggilan pemuridan mereka. Mereka mengajar dengan cerdas dan bertindak dengan bijaksana. Mereka tidak takut akan bahaya yang mengancam keselamatan nyawa. Malahan mereka semakin berani untuk terus mewartakan kabar gembira Allah dan melakukan banyak tanda heran. Kerja keras dan total dengan bantuan Roh Kebenaran ternyata tidak sia-sia. Banyak orang menjadi percaya dan menyerahkan diri kepada Allah.

 

Karya Roh Kebenaran tidak hanya terwujud dalam diri para rasul. Dalam diri kita sebagai orang beriman ternyata Roh Kebenaran itu sebenarnya ada dan sementara memainkan perannya untuk menuntun dan membimbing hidup kita ke arah yang lebih baik. Roh Kebenaran menuntun dan membimbing kita untuk berbicara dan bertindak dengan benar sesuai dengan firman dan kehendak Allah. Kalau kita masih berbicara dan bertindak tidak benar maka kita sementara menolak karya roh kebenaran yang ada dalam diri kita. Seringkali terjadi dalam pengalaman hidup bahwa setelah melakukan kesalahan atau dosa tertentu, banyak orang merasa menyesal dan berjanji tidak mengulanginya. Ini merupakan salah satu tanda bahwa Roh Kebenaran itu belum mati dalam diri kita. Roh Kebenaran masih tetap bekerja dengan baik karena ada keterbukaan dari manusia untuk menerimanya. Kalau orang tidak merasa salah dan tidak menyesali perbuatan sesatnya, maka mereka sudah menutup pintu rapat-rapat akan intervensi Roh Kebenaran, meskipun Roh Kebenaran itu tetap ada dan senantiasa menawarkan pengaruh ilahi-Nya.

 

Roh Kebenaran adalah jaminan hidup dan keselamatan kita. Hidup dalam Roh Kebenaran berarti kita sementara menggaransikan keselamatan hidup kita kepada Allah. Tidak ada pilihan tentang kebenaran sejati selain pilihan untuk hidup dan dihidupi oleh Roh Kebenaran. Sudah saatnya, kita menyadari hakikat dan tujuan dari Roh Kebenaran yang senantiasa menuntun dan mengarahkan hidup kita kepada Allah. Tidak ada sikap tawar menawar dan kompromi. Kita harus dengan bebas dan total menyerahkan diri dalam bimbingan Roh Kebenaran agar hidup kita sungguh-sungguh terarah kepada Allah melalui kesaksian hidup yang baik. Melalui kata-kata dan perbuatan penuh kasih, cinta, pengorbanan, kejujuran, dan kesetiaan, sebenarnya kita telah diberi jaminan oleh Roh Kebenaran untuk menikmati keselamatan kekal di sorga. Amin. ***Atanasius KD Labaona***