Rabu, 28 April 2021

TUHAN ITU YESUS DAN ALLAH


Yoh 12: 44-50

 

Beberapa tahun yang lalu, saya mengalami sebuah pengalaman rohani yang unik. Ketika itu, kedua kaki kiri dan kanan saya mengalami bengkak dan sakit secara bergantian. Kalau bukan kaki kiri, pasti kaki kanan yang sakit. Begitu juga sebaliknya, kalau bukan kaki kanan yang sakit, pasti kaki kiri yang terkena serangan. Pada awalnya saya mengira terkena sakit asam urat atau bisa juga jenis penyakit yang lain. Namun, hasil pemeriksaan dokter menunjukkan tidak ada jenis penyakit tertentu yang menjadi penyebabnya. Akhirnya, atas anjuran dari keluarga, saya memilih untuk berobat secara alternatif dengan meminum ramuan herbal yang disiapkan. Namun itu pun tidak banyak membantu. Kedua kaki masih terasa sakit dan bengkak. Saya semakin bingung dengan keadaan yang saya alami dan tidak tahu harus berobat kemana dan dengan cara apa lagi. Pada suatu kesempatan, oleh rekan kerja, saya diperkenalkan dengan seorang bapak yang katanya memiliki kharisma secara rohani.

 

Singkat cerita, ketika bertemu dan berhadapan muka dengan sang bapak, beliau menatap saya dengan tatapan yang tajam. Dalam hati saya merasa heran. Ada apa dengan bapak ini sampai menatap saya dengan cara yang tidak lazim tersebut. Tiba-tiba sang bapak berkata: “Kamu kurang berdoa, makanya kamu sakit”. Terus terang, saya sangat kaget dengan pernyataan yang ia lontarkan. “Iya bapa, saya kurang berdoa”, jawabku dengan jujur tanpa berusaha untuk berkelit lagi. Sang bapak kemudian memberi wejangan dan penguatan tentang makna sebuah doa yang dasyat bagi hidup manusia. Pada intinya beliau menandaskan bahwa, apapun sakit yang kita terima, sebenarnya disitulah letak kekuatan kita untuk kembali bersandar kepada Tuhan sebagai Pencipta dan Pemberi hidup. Setelah beberapa waktu bertekun dalam doa, saya mengalami perubahan yang tidak logis pada kedua kaki. Kedua kaki saya mulai pulih kembali seperti sedia kala.

 

Pengalaman kecil yang tidak biasa ini, sampai sekarang masih tetap terpatri erat dalam seluruh jiwa dan raga saya. Dari pengalaman ini, saya merasa yakin bahwa Tuhan itu sungguh ada dalam setiap realitas dan pengalaman yang saya alami. Memang sang bapak telah menjadi sosok yang luar biasa. Tetapi ia hanya sebagai alat atau saluran dari Tuhan. Sang bapak telah berkontribusi menyatakan kekuatan Tuhan yang menyelamatkan hidup saya secara pribadi. Sang bapak menjadi figur kharismatik oleh karena rasa percaya dan cintanya kepada Tuhan. Kalau tidak ada nilai itu, tidak mungkin ia menjadi sosok yang begitu dikagumi oleh semua orang yang datang kepadanya. Dia dikagumi bukan karena kekuatan pribadinya, tetapi karena saluran berkat Tuhan yang mengalir dalam tubuhnya.

 

Siapakah Tuhan itu sebenarnya? Apakah Dia Allah atau Dia Yesus? Ini sebuah pertanyaan yang kelihatan mudah tetapi cukup sulit untuk dijawab. Sebagian umat beriman memahami bahwa Tuhan itu adalah sebenarnya Allah. Sosok ilahi yang berbeda dengan Yesus. Ada juga umat beriman yang menjelaskan bahwa Tuhan itu Yesus. Mereka belum sampai kepada tahap untuk memahami Tuhan itu Allah. Satu terminologi Tuhan yang dipahami secara berbeda. Sejatinya satu kata Tuhan, melingkupi dua wujud yang tidak terpisahkan yakni Yesus dan Allah sendiri. Perbedaan antara keduanya hanya terletak dari mana asal substansi ilahi yang mereka peroleh. Allah adalah segala sumber tanpa sumber. Ia yang menjadikan segala sesuatu tetapi Ia tidak berasal dari sumber manapun. Ia adalah causa prima atau penyebab utama dari segala sesuatu yang ada dan dijadikan. Ia sudah ada sejak dunia dijadikan.

 

Yesus itu ada karena diperanakkan oleh Allah. Ia adalah Allah karena Ia berasal dari Allah. Ia tidak berada karena kekuatan pribadi-Nya sendiri, tetapi dari kekuatan Allah, Bapa-Nya. Perbedaan antara kedua-Nya, ternyata tidak membuat kedua-Nya terpisah menjadi masing-masing pribadi yang berdiri sendiri. Malahan semakin membuat kedua-Nya tidak terpisahkan dan semakin intim. Yesus dan Allah adalah dua hakikat atau wujud ilahi yang menjadikan dan mengisi alam semesta dengan kesempurnaan mereka sebagai pribadi ilahi. Oleh karena itu, dengan lantang Yesus berseru: “Barangsiapa percaya kepada-Ku, ia bukan percaya kepada-Ku, tetapi kepada Dia, yang telah mengutus Aku” (Yoh 12:45). Yesus hadir di muka bumi untuk menyatakan belaskasihan Allah kepada dunia. Dan kita sungguh percaya kepada Allah oleh karena kepercayaan kita kepada Yesus sebagai Juru Selamat yang menyelamatkan umat manusia.

 

Kepercayaan kita kepada Tuhan, menggambarkan dua relasi yang sangat dekat terjadi antara Yesus dan Allah. Percaya kepada Yesus, sama juga percaya kepada Allah yang tak terselami dan penuh misteri. Percaya kepada Allah, sama juga kita percaya kepada Yesus yang telah menyejarah dalam hidup manusia. Allah yang transenden, agung, dan absolut dapat kita pahami secara nyata dalam diri Yesus yang telah melahirkan gereja sebagai tanda kerajaan-Nya yang mulia di muka bumi. Sebagai langkah terakhir dari refleksi ini, apakah kita sungguh percaya kepada Tuhan? Thomas sudah melihat Tuhan secara kasat mata dan percaya. Tetapi bagi kita yang tidak melihat Tuhan secara fisik, apakah kita percaya kepada-Nya?

 

Saya yakin, seperti dalam pengalaman rohani yang saya alami, kita yang lain juga betul-betul mengalami Tuhan dalam setiap pengalaman; baik pengalaman sukacita maupun dukacita, entah pengalaman tentang keberhasilan ataupun kegagalan, dan entah pengalaman tentang sebuah harapan atau keterpurukan. Kita semua diteguhkan dan dikuatkan bahwa Tuhan sungguh hadir untuk melakukan intervensi ilahinya. Oleh karena itu, jangan pernah terbersit pun dalam hati kita untuk tidak percaya kepada-Nya atau menolak kehadiran-Nya dalam seluruh hidup dan pengalaman kita. Tuhan hadir dengan rancangan dan cara-Nya yang unik untuk menyelamatkan kita. Mari kita percaya kepada Tuhan karena Ia adalah Yesus dan Allah bagi kita. Amin. ***Atanasius KD Labaona***

Minggu, 25 April 2021

YESUS SEBAGAI PINTU DAN GEMBALA KESELAMATAN

Yoh 10:1-10

Pintu rumah sebagai akses masuk dan keluar bagi para penghuni atau anggota keluarga memainkan peran sangat sentral. Pintu belum lengkap disebut sebagai pintu apabila tidak memiliki dua komponen utama yakni daun pintu dan kuncinya. Dua komponen utama ini harus ada pada sebuah pintu rumah. Kalau pintu tidak memiliki daun pintu dan kuncinya, pasti tidak memberi rasa aman dan nyaman bagi para penghuninya. Oleh karena itu pintu yang baik harus memiliki daun pintu sekaligus kuncinya sehingga dapat memberi rasa aman dan nyaman bagi para penghuninya. Dengan adanya pintu rumah yang baik, penghuni rumah tidak perlu kuatir ketika sedang tidur atau berada di luar rumah. Pintu rumah adalah simbol keamanan dan kenyamanan bagi setiap anggota keluarga yang mendiami sebuah rumah.

 

Dalam bacaan hari ini (Yoh 10:1-10), Yesus memperkenalkan Diri-Nya sebagai sebuah pintu yang baik. “Akulah pintu; barangsiapa masuk melalui Aku, ia akan selamat dan ia akan masuk dan keluar dan menemukan padang rumput” (Yoh 10:9). Berkenaan dengan analogi Diri-Nya sebagai sebuah pintu, Yesus menegaskan bahwa hanya seorang gembala yang dapat masuk melalui pintu untuk menemui kawanan dombanya dalam kandang. Sekali lagi, Yesus menggunakan dua kata simbolik yakni gembala dan domba. Dua kata ini dipilih karena gembala merupakan jenis pekerjaan yang sangat familiar bagi umat Israel pada masa itu. Sedangkan hewan domba menjadi binatang yang jamak dipelihara oleh umat Israel. Yesus sengaja memunculkan kata-kata tersebut untuk menarik minat para pendengar untuk mendengarkan dan memahami dengan mudah apa yang disampaikan-Nya.

 

Sebagai gembala yang baik, ia harus masuk melalui pintu, menemui para domba dan memanggil mereka sesuai dengan nama mereka masing-masing. Selanjutnya, ia menuntun kawanan dombanya keluar melalui pintu yang sama untuk pergi mencari makan di rumput yang hijau. Di lain pihak, para kawanan domba pasti mengenal sang gembala dari suara, bau badannya, dan caranya memperlakukan mereka. Sehingga mereka tidak ragu untuk mengikutinya dari belakang, karena ia akan menuntun mereka ke tempat yang baik. Bagaimana orang-orang yang masuk tidak melalui pintu? Tentu saja mereka bukan termasuk gembala yang baik. Mereka adalah gembala palsu. Mereka memiliki niat dan tujuan yang tidak baik (jahat) terhadap kawanan domba yang ada di dalam kandang.

 

Kalau kita memperhatikan dengan cermat, selain sebagai pintu yang baik, Yesus mengafirmasi Diri-Nya sebagai seorang Gembala yang baik. Dan umat manusia adalah para kawanan domba yang sementara “dijaga dan dipelihara” oleh Yesus. Hanya umat manusia yang mau mendengarkan, percaya dan mengikuti jalan-Nya yang akan mendapatkan keselamatan. Yesus juga mewanti-wanti munculnya para gembala palsu yang akan merenggut kawanan domba dari tangan-Nya. Para gembala palsu adalah orang-orang yang licik dan jahat. Mereka akan membelokkan pikiran dan hati banyak orang agar bersikap tidak setia kepada Allah.

 

Realitas telah menunjukkan bahwa banyak orang Israel yang bersikap tidak setia dan tidak percaya kepada Allah. Bahkan dengan kehadiran Yesus, Anak Allah, yang datang menyatakan diri sebagai gembala yang baik pun tidak diterima oleh orang Israel sendiri. Dengan tegas mereka menolak Yesus sebagai Gembala. Mereka hanya mengikuti kemauan dan kehendak para gembala palsu yang semakin membawa mereka ke jurang kesesatan dan kehancuran. Gembala palsu yang dimaksud Yesus adalah pihak otoritas bangsa Romawi dan para elit agama bangsa Yahudi. Seharusnya dalam situasi batin umat yang lagi mengalami tekanan dari bangsa penjajah Romawi, kehadiran para elit agama dapat menjadi penyeimbang untuk memberi dukungan dan penguatan. Tetapi yang terjadi adalah sebaliknya. Umat semakin merasa tertekan dan tertindas karena mereka hanya dijadikan alat oleh para pemimpin agama untuk meraih keuntungan secara ekonomi dan sosial.

 

Situasi tidak adil yang diciptakan oleh para elit agama inilah yang membuat Yesus melabeli mereka sebagai golongan pencuri dan perampok. “Sesungguhnya siapa yang masuk ke dalam kandang domba dengan tidak melalui pintu, tetapi dengan memanjat tembok, ia adalah seorang pencuri dan seorang perampok” (Yoh 10:1). Untuk melawan penindasan dan membawa kembali para kawanan domba (umat yang telah tersesat), Yesus harus menyatakan Diri-Nya sebagai pintu dan domba yang membawa orang kepada kebaikan dan keselamatan. Setiap orang harus percaya dan mengikuti jalan kebaikan dan keselamatan yang ditawarkan oleh Yesus sebagai pintu dan gembala yang baik.

 

Masa kini, di tengah melesatnya kemajuan teknologi informasi yang ditandai dengan munculnya berbagai platform media sosial (FB, Youtube, twitter, blog, dan sebagainya), ternyata di lain sisi tidak diimbangi oleh daya kritis, ketahanan mental dan spiritual yang baik dari orang-orang beragama, terutama umat Kristen yang bergelut di dalamnya. Kita gampang terpengaruh dan terseret dengan berita-berita hoax atau berita tidak benar yang mengancam keutuhan rasa persaudaraan dan solidaritas kita sebagai sesama umat manusia. Tidak hanya itu, kita juga bahkan menjadi pelaku yang semakin memprovokasi dan membakar suasana sehingga tidak jarang terjadi konflik yang berseliweran dalam media sosial online yang kita miliki. Orang gampang memaki, menghina, mengancam dan mengeluarkan kata-kata tidak pantas dan tidak etis terhadap sesamanya dalam media online. Media online sudah menjadi medan perang yang tidak bisa dielakkan lagi. Di dalamnya, orang saling membunuh dan  tidak menghargai orang lain sebagai sesama citra Allah yang kudus.

 

Kenyataan hidup inilah yang melunturkan jati diri kita sebagai kawanan domba yang setia kepada Allah. Kita lebih patuh mendengarkan suara gembala yang palsu daripada suara Allah sebagai Gembala agung. Para gembala palsu telah berhasil mempengaruhi dan menyeret kita ke dalam permainan yang jahat dan sesat. Kita pun telah terperangkap menjadi domba-domba sesat yang tidak mengenali mana gembala yang asli dan palsu.

 

Allah melalui Yesus yang kita imani, sudah menyata sebagai pintu dan gembala yang membawa kebaikan dan keselamatan dalam hidup kita. Mari kita menyadari diri sebagai makhluk ciptaan Tuhan paling mulia dengan saling mendukung dan meneguhkan satu sama lewat kata-kata dan perbuatan. Media online hendaknya menjadi corong kebaikan yang membawa cinta dan perhatian bagi siapa saja dan dimana saja mereka berada. Dengan meneladan Yesus sebagai pembawa kebaikan dan keselamatan, kita pun telah mengambil bagian menjadi pintu dan gembala-gembala kecil bagi sesama manusia. Semoga melalui refleksi sederhana ini dapat menghantar kita untuk semakin mengenali dan memahami Yesus sebagai Pintu keselamatan dan Gembala yang menghantar kita kepada segala kebaikan. Amin. ***Atanasius KD Labaona***

Selasa, 13 April 2021

MENEMUKAN JALAN TERANG ALLAH

Yoh 3: 16-21

Eforia kedatangan Jokowi di dua Kabupaten yakni Kabupaten Flores Timur dan Kabupaten Lembata masih terasa aromanya hingga saat ini. Begitu banyak orang dan dari berbagai kalangan terus mempercakapkan sosok kharismatik orang nomor satu di Negara Kesatuan Republik Indonesia tersebut. Tidak hanya dalam percakapan langsung tetapi melalui platform media sosial (FB, twitter, dan lainnya) kita menyaksikan secara terang benderang kesaksian yang baik dari banyak pihak tentang presiden Jokowi yang membawa banyak kebaikan untuk semua orang, terkhusus dua wilayah yang terdampak bencana paling parah; Adonara dan Lembata.

 

Jokowi sudah terlanjur menjadi simbol kebaikan bagi masyarakat di provinsi Nusa Tenggara Timur. Bahkan menjadi simbol terang. Tidak berlebihan saya mengatakan demikian. Sudah kesekian kalinya Presiden Jokowi mengunjungi masyarakat NTT. Tentu tidak sekedar kunjungan biasa. Karena cintanya yang besar untuk masyarakat NTT, Jokowi memberikan porsi kue pembangunan yang besar. Misalnya dengan membangun infrastruktur dan sarana prasarana lainnya di berbagai bidang kehidupan. Teranyar, Jokowi memberi cinta dan perhatian dengan berkunjung ke daerah yang terkena dampak bencana banjir bandang dan longsor. Kedatangan Presiden Jokowi memberi angin segar bagi percepatan penanganan wilayah pasca bencana dari sisi pangan, sandang, dan perumahan. Lebih dari itu, kehadirannya menyembuhkan luka batin bagi masyarakat yang kehilangan anggota keluarga dan sanak saudaranya. Oleh karena itu, tidak salah kalau kita mengatakan bahwa Jokowi adalah bapak penuh kasih dan pembawa terang untuk masyarakat NTT.

 

Percakapan antara Yesus dan Nikodemus dalam bacaan Injil hari ini (Yoh 3:16-21), mengusung tiga point utama tentang hakikat Allah. Pertama, Allah adalah kasih. Spirit kasih itu asalnya dari Allah sendiri. Allah bagi manusia adalah Allah yang agung dan absolut. Allah yang tidak bisa dilihat, tidak bisa diganggugugat dan tidak bisa diintervensi. Namun hal demikian tidak membatasi Allah untuk menyatakan keprihatinan dan perhatian-Nya bagi manusia. Bukti konkrit yang paling agung dari kasih Allah adalah Ia mengutus Putera-Nya yang Tunggal untuk turun ke bumi membawa misi penyelamatan bagi umat manusia. Karena semangat kasih Allah itu pula, Putera Allah rela menderita dan wafat di kayu salib demi memulihkan kembali hubungan luhur antara Allah dan umat manusia.

 

Kedua, Allah membawa penghakiman. Sekilas kata penghakiman bertentangan dengan wajah kasih Allah. Tetapi paradoks Allah maha kasih yang membawa penghakiman tidak serta merta menggambarkan wajah sangar dan beringas Allah terhadap umat manusia. Justru sebaliknya kehadiran Allah membawa keselamatan bagi umat manusia yang percaya. Yang belum / tidak percaya akan mendapat penghakiman oleh karena kekerasan pikiran dan hati mereka. Allah dalam diri Yesus tidak memainkan peran sebagai hakim yang mengadili umat manusia yang bersalah. Proses penghakiman itu justru terjadi dalam diri manusia oleh karena ulah atau perbuatan manusia yang tidak mau mendengarkan dan percaya kepada Allah.

 

Ketiga, Allah membawa terang. Terang adalah perwujudan dari kasih Allah terhadap umat manusia. Karena kasih Allah yang dasyat telah melahirkan terang bagi seluruh umat manusia. Terang itu menuntun manusia supaya berjalan dalam kebaikan dan menghindarkan dirinya untuk menyimpang ke jalan kegelapan yang tidak ada cahaya terangnya. Terang itu sebagai pemandu supaya manusia tetap memancarkan wajah kasih Allah. Terang itu membawa manusia kepada keselamatan. Dan tidak menjerumuskan manusia ke dalam penghakiman yang tidak menyelamatkan. Karena Allah adalah terang maka sudah menjadi pilihan bebas bagi kita untuk berjalan dalam terang Allah itu.

 

Nikodemus seorang pemimpin agama Yahudi sekaligus seorang guru besar yang sangat dihormati telah menemukan tanda yang mempresentasikan spirit kasih dan terang dalam diri Yesus. Melalui percakapan di malam hari yang begitu alot dan intensif, secara perlahan namun pasti, Nikodemus semakin paham dan yakin bahwa Yesus adalah sungguh-sungguh Putera Allah yang hidup. Yesus adalah Allah yang membawa kebaikan, penghakiman, dan terang yang nyata bagi umat manusia. Tidak ada harapan yang menjadi harapan kosong di mata Allah. Semuanya terlaksana dengan baik dan sempurna, walaupun manusia belum sempurna memahami dan mau mengikutinya. Nikodemus menjadi cerminan bagi orang-orang yang sebelumnya berjalan dalam kegelapan, telah menemukan sumber terang yang luar biasa dalam diri Yesus. Terang itu yang kemudian membawa Nikodemus menjadi pewarta Injil di tengah-tengah komunitas umat Israel.

 

Pengalaman Nikodemus sesungguhnya menjadi pengalaman kita sebagai orang Kristen. Acapkali kita memperlihatkan jati diri yang masih berjalan dalam kegelapan duniawi. Kita belum secara total dan tulus membawa spirit kasih dalam kehidupan sehari-hari. Kita masih sibuk mementingkan ego, status, wibawa, dan pamor pribadi. Banyak orang Kristen yang suka membully, menghina, merendahkan dan bahkan membunuh sesamanya. Coba perhatikan jagat media sosial seperti FB (Face Book). Banyak sekalih sajian atau konten dimana orang saling mengucapkan kata-kata yang tidak pantas, kata-kata hinaan dan cemoohan. Secara fisik orang yang menjadi korban masih hidup, tetapi secara psikis atau mental, ia telah dibunuh berulang kali. Ini hanya segelintir contoh yang mendemonstrasikan perendahan nilai-nilai kasih yang justru dilakukan oleh orang Kristen sendiri.

 

Seperti Nikodemus yang menemukan terang Allah dalam diri Yesus, hendaknya kita juga mulai meniti jalan untuk menemukan jalan terang yang telah ditunjukkan oleh sang juru terang Yesus Kristus. Sesungguhnya melalui terang itu ada nilai kasih yang semestinya kita perjuangkan dan kobarkan dalam pengalaman hidup sehari-hari. Semangat terang dalam paskah Tuhan tentu tetap bernyala dalam diri, walaupun dalam situasi pandemi covid-19 yang belum berakhir dan suasana duka yang menyelimuti saudara/i kita yang terkena dampak bencana banjir dan longsor.

 

Inilah moment yang tepat bagi kita untuk memancarkan wajah Allah yang penuh kasih kepada siapa saja yang membutuhkan uluran tangan kita. Terutama bagi saudara/i kita yang terkena dampak bencana. Bantuan sekecil apa pun tentu sangat berarti bagi mereka. Lewat media sosial pun, bantuan itu bisa diberikan dengan cara menulis kata-kata motivasi, hiburan dan dukungan yang baik. Pada pokoknya, nilai kasih dan terang itu bisa terlaksana dalam berbagai wujud; mulai dari yang paling sederhana sampai ke wujud yang paling besar. Semoga kita mampu berdialog secara lebih intim lagi dengan Tuhan, agar kita bisa menemukan terang-Nya yang membawa spirit kasih bagi semua orang. ***Atanasius KD Labaona***