Yoh 12: 44-50
Beberapa tahun yang lalu, saya mengalami sebuah pengalaman rohani yang
unik. Ketika itu, kedua kaki kiri dan kanan saya mengalami bengkak dan sakit
secara bergantian. Kalau bukan kaki kiri, pasti kaki kanan yang sakit. Begitu
juga sebaliknya, kalau bukan kaki kanan yang sakit, pasti kaki kiri yang
terkena serangan. Pada awalnya saya mengira terkena sakit asam urat atau bisa
juga jenis penyakit yang lain. Namun, hasil pemeriksaan dokter menunjukkan
tidak ada jenis penyakit tertentu yang menjadi penyebabnya. Akhirnya, atas
anjuran dari keluarga, saya memilih untuk berobat secara alternatif dengan
meminum ramuan herbal yang disiapkan. Namun itu pun tidak banyak membantu.
Kedua kaki masih terasa sakit dan bengkak. Saya semakin bingung dengan keadaan
yang saya alami dan tidak tahu harus berobat kemana dan dengan cara apa lagi.
Pada suatu kesempatan, oleh rekan kerja, saya diperkenalkan dengan seorang
bapak yang katanya memiliki kharisma secara rohani.
Singkat cerita, ketika bertemu dan berhadapan muka dengan sang bapak,
beliau menatap saya dengan tatapan yang tajam. Dalam hati saya merasa heran.
Ada apa dengan bapak ini sampai menatap saya dengan cara yang tidak lazim
tersebut. Tiba-tiba sang bapak berkata: “Kamu kurang berdoa, makanya kamu
sakit”. Terus terang, saya sangat kaget dengan pernyataan yang ia lontarkan.
“Iya bapa, saya kurang berdoa”, jawabku dengan jujur tanpa berusaha untuk
berkelit lagi. Sang bapak kemudian memberi wejangan dan penguatan tentang makna
sebuah doa yang dasyat bagi hidup manusia. Pada intinya beliau menandaskan
bahwa, apapun sakit yang kita terima, sebenarnya disitulah letak kekuatan kita
untuk kembali bersandar kepada Tuhan sebagai Pencipta dan Pemberi hidup.
Setelah beberapa waktu bertekun dalam doa, saya mengalami perubahan yang tidak
logis pada kedua kaki. Kedua kaki saya mulai pulih kembali seperti sedia kala.
Pengalaman kecil yang tidak biasa ini, sampai sekarang masih tetap terpatri
erat dalam seluruh jiwa dan raga saya. Dari pengalaman ini, saya merasa yakin
bahwa Tuhan itu sungguh ada dalam setiap realitas dan pengalaman yang saya
alami. Memang sang bapak telah menjadi sosok yang luar biasa. Tetapi ia hanya
sebagai alat atau saluran dari Tuhan. Sang bapak telah berkontribusi menyatakan
kekuatan Tuhan yang menyelamatkan hidup saya secara pribadi. Sang bapak menjadi
figur kharismatik oleh karena rasa percaya dan cintanya kepada Tuhan. Kalau
tidak ada nilai itu, tidak mungkin ia menjadi sosok yang begitu dikagumi oleh
semua orang yang datang kepadanya. Dia dikagumi bukan karena kekuatan
pribadinya, tetapi karena saluran berkat Tuhan yang mengalir dalam tubuhnya.
Siapakah Tuhan itu sebenarnya? Apakah Dia Allah atau Dia Yesus? Ini sebuah
pertanyaan yang kelihatan mudah tetapi cukup sulit untuk dijawab. Sebagian umat
beriman memahami bahwa Tuhan itu adalah sebenarnya Allah. Sosok ilahi yang
berbeda dengan Yesus. Ada juga umat beriman yang menjelaskan bahwa Tuhan itu
Yesus. Mereka belum sampai kepada tahap untuk memahami Tuhan itu Allah. Satu
terminologi Tuhan yang dipahami secara berbeda. Sejatinya satu kata Tuhan,
melingkupi dua wujud yang tidak terpisahkan yakni Yesus dan Allah sendiri.
Perbedaan antara keduanya hanya terletak dari mana asal substansi ilahi yang
mereka peroleh. Allah adalah segala sumber tanpa sumber. Ia yang menjadikan
segala sesuatu tetapi Ia tidak berasal dari sumber manapun. Ia adalah causa prima
atau penyebab utama dari segala sesuatu yang ada dan dijadikan. Ia sudah ada
sejak dunia dijadikan.
Yesus itu ada karena diperanakkan oleh Allah. Ia adalah Allah karena Ia
berasal dari Allah. Ia tidak berada karena kekuatan pribadi-Nya sendiri, tetapi
dari kekuatan Allah, Bapa-Nya. Perbedaan antara kedua-Nya, ternyata tidak
membuat kedua-Nya terpisah menjadi masing-masing pribadi yang berdiri sendiri.
Malahan semakin membuat kedua-Nya tidak terpisahkan dan semakin intim. Yesus
dan Allah adalah dua hakikat atau wujud ilahi yang menjadikan dan mengisi alam
semesta dengan kesempurnaan mereka sebagai pribadi ilahi. Oleh karena itu,
dengan lantang Yesus berseru: “Barangsiapa percaya kepada-Ku, ia bukan percaya
kepada-Ku, tetapi kepada Dia, yang telah mengutus Aku” (Yoh 12:45). Yesus hadir
di muka bumi untuk menyatakan belaskasihan Allah kepada dunia. Dan kita sungguh
percaya kepada Allah oleh karena kepercayaan kita kepada Yesus sebagai Juru
Selamat yang menyelamatkan umat manusia.
Kepercayaan kita kepada Tuhan, menggambarkan dua relasi yang sangat dekat
terjadi antara Yesus dan Allah. Percaya kepada Yesus, sama juga percaya kepada
Allah yang tak terselami dan penuh misteri. Percaya kepada Allah, sama juga
kita percaya kepada Yesus yang telah menyejarah dalam hidup manusia. Allah yang
transenden, agung, dan absolut dapat kita pahami secara nyata dalam diri Yesus
yang telah melahirkan gereja sebagai tanda kerajaan-Nya yang mulia di muka
bumi. Sebagai langkah terakhir dari refleksi ini, apakah kita sungguh percaya kepada
Tuhan? Thomas sudah melihat Tuhan secara kasat mata dan percaya. Tetapi bagi
kita yang tidak melihat Tuhan secara fisik, apakah kita percaya kepada-Nya?
Saya yakin, seperti dalam pengalaman rohani yang saya alami, kita yang lain
juga betul-betul mengalami Tuhan dalam setiap pengalaman; baik pengalaman
sukacita maupun dukacita, entah pengalaman tentang keberhasilan ataupun
kegagalan, dan entah pengalaman tentang sebuah harapan atau keterpurukan. Kita
semua diteguhkan dan dikuatkan bahwa Tuhan sungguh hadir untuk melakukan
intervensi ilahinya. Oleh karena itu, jangan pernah terbersit pun dalam hati
kita untuk tidak percaya kepada-Nya atau menolak kehadiran-Nya dalam seluruh
hidup dan pengalaman kita. Tuhan hadir dengan rancangan dan cara-Nya yang unik untuk
menyelamatkan kita. Mari kita percaya kepada Tuhan karena Ia adalah Yesus dan
Allah bagi kita. Amin. ***Atanasius KD Labaona***