Mat 7:15-20
Pohon dan buah
menjadi satu paket kehidupan yang tidak dapat dipisahkan. Dari pohonlah kita
mengenal buah. Entah buah yang baik atau pun yang tidak baik. Biasanya pohon
yang baik menghasilkan buah yang baik. Sebaliknya pohon yang tidak baik
menghasilkan buah yang tidak baik. Maka kita mengenal sebuah pameo, “Buah jatuh
tidak jauh dari pohonnya”. Pameo ini berisi pesan atau nasihat yang
menggambarkan kebiasaan, tindak tanduk, perilaku dan sifat anak tidak jauh
berbeda dengan ayahnya. Jika orang tua mengupayakan atau mewariskan kebiasaan,
tindak tanduk, perilaku, dan sifat yang baik dalam menjalani kehidupan
sehari-hari maka dapat dipastikan bahwa anak-anaknya dapat mengikuti atau
meneladani apa yang dilakukan oleh orang tuanya. Dan pada sisi yang lain, jika
orang tua tidak mampu menunjukkan sifat, kebiasaan, atau perilaku yang baik
maka tidak mengherankan apabila kehidupan anak-anak mereka juga jauh dari
hal-hal yang baik.
Gambaran tentang
pohon yang baik dan pohon yang tidak baik menjadi analogi untuk menjelaskan
para nabi yang asli dan palsu. Dan dengan cerdas Yesus telah menyatakan itu
dalam firman-Nya hari ini (Mat 7:15-20). Lebih khusus sikap waspada terhadap
para nabi palsu. Ibarat pohon yang tidak baik, para nabi palsu akan muncul atau
kelihatan seperti seorang nabi yang benar. Namun apa yang mereka tampilkan
hanya kamuflase. Ada orientasi atau kepentingan terselubung yang hendak diraih.
Sudah pasti bahwa tujuan yang hendak digapai itu berseberangan dengan kehendak
atau kemauan Tuhan. Para nabi palsu menawarkan hal-hal yang seolah-olah berasal
dari Tuhan. Mereka sengaja menebar jebakan untuk menarik simpati orang lain.
Apabila jebakannya berhasil, sifat atau karakter asli yang disembunyikan akan
muncul.
Menurut Yesus,
para nabi palsu itu adalah para serigala yang buas. Serigala yang pada awalnya
mengenakan bulu domba. Ketika mangsa sudah berada di depan mata, segera ia
tidak akan menyia-nyiakan peluang emas tersebut. Dengan sekali tangkapan, ia
akan memangsa mangsa yang ada di depan matanya. Para nabi palsu dengan sengaja
memanfaatkan kemampuan atau kapabilitas yang dimiliki untuk menarik keuntungan
pribadi atau kelompoknya. Tentu keuntungan itu bisa nampak dalam wujud yang
berbeda-beda. Misalnya keuntungan secara sosial atau politik. Para nabi palsu
sengaja memanfaatkan momentum tertentu untuk mendongkrak pamor atau prestise
pribadi. Dengan cara demikian, akan mudah baginya untuk menaikan elektabilitas
pribadi atau kelompoknya dalam kontestasi politik. Namun sayang seribu sayang,
ketika sudah memegang jabatan atau duduk di kursi yang empuk, ia akan lupa
dengan segala janji manisnya.
Dari sisi
ekonomi, para nabi palsu sangat lihai menebar aneka kebaikan untuk mendapatkan keuntungan
itu. Mereka sangat pandai menjual ayat-ayat Tuhan. Dengan memanfaatkan
keluguan, kepolosan dan keterbatasan yang dimiliki orang lain, para nabi palsu
akan bereaksi untuk memperoleh mammon duniawi atau keuntungan secara ekonomi.
Sadar atau tidak, di tengah-tengah kita bertebaran kelompok-kelompok doa yang
menawarkan kesembuhan atau keselamatan. Tetapi jangan kaget. Kelompok-kelompok
itu adalah kelompok berbayar dengan tarif yang variatif. Ada juga yang sengaja
menawarkan bantuan atau pertolongan ketika orang lain sedang ditimpah
kesusahan, sakit dan penderitaan. Dan kita sudah bisa menebak bahwa kebaikan
yang diberikan tidak gratis. Mereka menginginkan harta duniawi sebagai bayaran
dari segala hal baik yang telah dilakukan.
Selain
mewanti-wanti kehadiran para nabi palsu, secara implisit Yesus mengarahkan kita
untuk mampu menjadi seorang nabi sejati. Seorang nabi yang tidak terpapar
dengan pelbagai kepentingan atau orientasi yang menyesatkan. Nabi sejati itu
ibarat pohon yang baik. Apa yang dipikirkan dan dilakukan selalu memiliki nilai
kebaikan bagi banyak orang. Tidak hanya itu saja. Ia tidak pernah mengharapkan
imbalan atau reward dari segala hal
yang telah dilakukannya. Niatnya selalu tulus. Apa yang dilakukan oleh seorang
nabi asli selalu berada dalam kerangka atau desain Tuhan. Ia memiliki tujuan
yang sangat mulia untuk membawa warta gembira kerajaan Allah bagi semua orang.
Nabi asli adalah mitra Allah di muka bumi. Karena ia mampu menerjemahkan dan
mengeksekusi berbagai program kerja Allah secara baik demi membawa kemaslahatan
dan keselamatan bagi dunia.
Mungkin terbersit
dalam pikiran kita masing-masing betapa sulitnya menjadi model seorang nabi
sejati. Bayang-bayang nabi besar seperti Yesaya, Elia, Yeremia, Yehezkiel
sementara menghantui pikiran dan rasa kita. Mungkinkah kita harus meniru dan
mengikuti model nabi sejati seperti
mereka? Saya pikir tidak perlu demikian. Untuk menjadi seorang nabi yang baik
tidak perlu harus mengimitasi model nabi Yesaya dan kawan-kawannya. Sekecil apa
pun hal baik yang kita lakukan, sesungguhnya kita telah mengambil bagian yang
hakiki untuk menjadi seorang nabi yang sejati di era ini. Di tengah kehidupan
kita ada banyak realitas sosial yang memprihatikankan. Ada kemiskinan yang
mendera. Rasa sakit yang tak kunjung sembuh. Ada ketidakadilan yang terjadi.
Penindasan secara fisik dan psikis yang terus berulang. Ada pengalaman duka
yang mengiris hati. Inilah fakta-fakta sosial yang menuntut perhatian dan
kepedulian kita untuk mau terlibat. Saatnya kita membuktikan diri sebagai
seorang nabi. Tetapi tentu bukan sembarang nabi. Kita harus menghindarkan diri
dari perangai nabi palsu. Dan saatnya kita mulai mengisi diri dengan pelbagai
keutamaan yang dimiliki oleh seorang nabi sejati. Kita harus mengambil bagian
dan senantiasa berada di bagian terdalam untuk menjadi saksi sekaligus mitra
kerja Allah yang mumpuni di tengah dunia.