Mat:20:17-28
Mendapatkan
status sosial yang baik, kedudukan yang tinggi dalam struktur masyarakat, dan jabatan
yang mentereng dalam suatu pekerjaan menjadi harapan dan impian sebagian besar
orang di muka bumi. Bahkan orang rela melakukan apa saja dan bisa menghalalkan
segala cara demi mendapatkan hal-hal tersebut. Dan kebanyakan orang yang sudah
mendapatkannya, cenderung menempatkan diri sebagai BOS. Bos itu boleh omong
saja. Apa yang mereka butuhkan, inginkan atau kehendaki tinggal dikeluarkan
lewat kata-kata saja. Dan semuanya akan terpenuhi. Orang-orang yang mendapatkan
status sosial, kedudukan dan jabatan yang tinggi pada umumnya suka dilayani dan
ingin dihormati. Mungkin kita pernah membaca, mendengar atau mengikuti salah
satu kasus kekerasan yang sempat trending
di media massa dan sosial. Ada salah satu wakil bupati di daerah tertentu yang
tega berlaku kasar, tidak hanya secara verbal tetapi juga dengan kekesaran
fisik terhadap salah seorang bawahannya. Akar persoalannya cuma hal sepele.
Sang wakil bupati tersinggung karena tidak dihargai dan dihormati sebagai
seorang pemimpin. Ini hanya salah satu contoh kasus dari sekian banyak kasus
yang memperlihatkan sikap pongah dan ego dari orang-orang yang merasa diri
paling hebat, paling pintar, dan paling berkuasa.
Bagi
para murid, Sang Mesias adalah simbol dari sebuah kemuliaan, kemegahan, dan
kejayaan. Para murid melihat bahwa Sang Mesias yang termanifestasi dalam diri
Yesus adalah seorang raja dunia baru seperti raja Daud. Ia akan datang dan
segera mengembalikan kejayaan Israel seperti sedia kala. Memori dan impian para
murid (dan sebagian orang Israel) akan kehebatan dan kemuliaan raja Daud,
perlahan-perlahan tersingkap dalam diri Yesus. Bagi para rasul, Yesus adalah
Mesias, raja Israel baru yang akan membawa Israel keluar dari penindasan dan
penjajahan bangsa asing. Bayang-bayang untuk mendapatkan remah-remah dari
kekuasaan Mesias sebagai raja duniawi meninabobokan para murid. Yang ada dalam
pikiran dan hati mereka hanya terbersit kekuasaan, kenikmatan, dan kejayaan
duniawi. Sehingga tidak heran apabila Salome membawa dua puteranya yakni
Yohanes dan Yakobus kepada Yesus. Ia membawa pesan khusus agar Yesus dapat
memberikan perhatian berupa jabatan atau kedudukan yang tinggi bagi kedua
anaknya.
Bayang-bayang
akan kenikmatan dan kekuasaan duniawi yang dipresentasikan oleh para murid
serentak sirna tatkala Yesus mulai membongkar misi mulianya. “Sekarang kita
pergi ke Yerusalem dan Anak Manusia akan diserahkan kepada imam-imam kepala dan
ahli-ahli Taurat, dan mereka akan menjatuhi Dia hukuman mati” (Mat 20:18).
Sepenggal pernyataan Yesus ini seakan menjadi bom atom yang meruntuhkan segala
harapan dan cita-cita para murid akan bayang-bayang kejayaan hidup bersama
Yesus Sang Mesias. Ternyata selama ini, mereka gagal paham akan arti Mesias yang
terdeskripsi dalam diri Yesus. Secara terbuka dan jelas, Yesus merubah cara
pandang para murid mengenai kata Mesias. Ia bukan seperti raja Daud atau raja
duniawi mana pun, yang akan duduk di singgasana kerajaan Duniawi. Yesus memang
Mesias. Namun Ia adalah raja ilahi yang datang ke dunia untuk menyelamatkan
umat manusia bukan dari penjajahan bangsa asing. Tetapi dari penjajahan
dosa-dosa duniawi.
Dan
puncak dari kejayaan dan kemuliaan-Nya sebagai Sang Mesias adalah ketika Ia
harus menderita dalam jalan salib, mati di kayu salib, dimakamkan dan kemudian
bangkit. Di sinilah letak agung keMesiasan-Nya untuk membawa sebanyak mungkin
manusia keluar dari belenggu dosa untuk masuk dalam Kerajaan Sorga. Inilah
cita-cita mulia dari Sang Mesias yang ingin mendaratkan kehendak Bapa di sorga
yakni seluruh umat manusia dapat mencapai nirwana keselamatan. Para murid entah
suka atau tidak suka, senang atau tidak senang, harus mulai menyadari inilah
cita-cita Sang Mesias yang sementara diretas untuk segera mencapai puncaknya.
Siapa yang tidak tahan harus segera mengundurkan diri. Namun dalam situasi
kebatinan para murid yang lagi dilematis, Yesus tetap memberi arahan, kekuatan
dan peneguhan agar mereka tetap bertahan. Karena hanya orang-orang yang mampu
bertahanlah yang akan mendapatkan keselamatan dan kenikmatan ilahi.
Kejayaan
dan kemuliaan hidup yang digaungkan oleh Yesus sebagai Mesias baru, berbanding
terbalik dengan konsep mesianik lama, yang melihat Yesus sekedar raja duniawi.
Dalam konsep mesiani baru, Yesus adalah raja ilahi yang membawa kemuliaan
sorgawi di tengah dunia. Orang harus melepaskan keterikatan akan kesenangan dan
kenikmatan duniawinya. Karena mereka harus meminum “cawan” yang Ia berikan.
Orang harus bertahan banyak dalam kesulitan, kesusahan dan penderitaan. Inilah
jalan hidup setiap orang beriman yang dimaknai sebagai jalan salib menuju
keselamatan kekal. Tidak ada keselamatan tanpa usaha yang remeh temeh. Orang
harus berjuang dan memiliki komitmen yang kuat. Mengikuti Yesus sebagai Mesias
berarti harus rela meninggalkan kemapanan dan kenyamanan duniawi. Orang harus
siap melayani, dan bukan siap dilayani. Orang harus rela memberi dan bukan rela
diberi.
Pertanyaan
Yesus kepada Salome dan dua anaknya (Yohanes dan Yakobus): “Dapatkah kamu
meminum cawan yang harus Kuminum” (Mat 20:22), menembus jauh di kedalaman hidup
dan pengalaman kita sebagai para pengikut Yesus di masa kini. Bahwa kadangkala
atau seringkali kita belum siap atau menolak meminum cawan yang diberikan oleh
Yesus. Kita belum siap menderita bersama Yesus di dalam jalan salib kehidupan
ini. Kita masih hidup dan ingin hidup dalam gelimangan harta, jabatan, status
sosial, budaya hedonisme, dan pelbagai kenikmatan lain yang membelenggu hidup.
Kita masih suka dilayani, gila akan rasa hormat dan pujian, dan suka menindas
orang demi mendapatkan keuntungan sesaat.