Rabu, 23 Maret 2022

Melekatkan Harta Sorgawi Dalam Hidup

Mat:20:17-28

Mendapatkan status sosial yang baik, kedudukan yang tinggi dalam struktur masyarakat, dan jabatan yang mentereng dalam suatu pekerjaan menjadi harapan dan impian sebagian besar orang di muka bumi. Bahkan orang rela melakukan apa saja dan bisa menghalalkan segala cara demi mendapatkan hal-hal tersebut. Dan kebanyakan orang yang sudah mendapatkannya, cenderung menempatkan diri sebagai BOS. Bos itu boleh omong saja. Apa yang mereka butuhkan, inginkan atau kehendaki tinggal dikeluarkan lewat kata-kata saja. Dan semuanya akan terpenuhi. Orang-orang yang mendapatkan status sosial, kedudukan dan jabatan yang tinggi pada umumnya suka dilayani dan ingin dihormati. Mungkin kita pernah membaca, mendengar atau mengikuti salah satu kasus kekerasan yang sempat trending di media massa dan sosial. Ada salah satu wakil bupati di daerah tertentu yang tega berlaku kasar, tidak hanya secara verbal tetapi juga dengan kekesaran fisik terhadap salah seorang bawahannya. Akar persoalannya cuma hal sepele. Sang wakil bupati tersinggung karena tidak dihargai dan dihormati sebagai seorang pemimpin. Ini hanya salah satu contoh kasus dari sekian banyak kasus yang memperlihatkan sikap pongah dan ego dari orang-orang yang merasa diri paling hebat, paling pintar, dan paling berkuasa.

 

Bagi para murid, Sang Mesias adalah simbol dari sebuah kemuliaan, kemegahan, dan kejayaan. Para murid melihat bahwa Sang Mesias yang termanifestasi dalam diri Yesus adalah seorang raja dunia baru seperti raja Daud. Ia akan datang dan segera mengembalikan kejayaan Israel seperti sedia kala. Memori dan impian para murid (dan sebagian orang Israel) akan kehebatan dan kemuliaan raja Daud, perlahan-perlahan tersingkap dalam diri Yesus. Bagi para rasul, Yesus adalah Mesias, raja Israel baru yang akan membawa Israel keluar dari penindasan dan penjajahan bangsa asing. Bayang-bayang untuk mendapatkan remah-remah dari kekuasaan Mesias sebagai raja duniawi meninabobokan para murid. Yang ada dalam pikiran dan hati mereka hanya terbersit kekuasaan, kenikmatan, dan kejayaan duniawi. Sehingga tidak heran apabila Salome membawa dua puteranya yakni Yohanes dan Yakobus kepada Yesus. Ia membawa pesan khusus agar Yesus dapat memberikan perhatian berupa jabatan atau kedudukan yang tinggi bagi kedua anaknya.

 

Bayang-bayang akan kenikmatan dan kekuasaan duniawi yang dipresentasikan oleh para murid serentak sirna tatkala Yesus mulai membongkar misi mulianya. “Sekarang kita pergi ke Yerusalem dan Anak Manusia akan diserahkan kepada imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, dan mereka akan menjatuhi Dia hukuman mati” (Mat 20:18). Sepenggal pernyataan Yesus ini seakan menjadi bom atom yang meruntuhkan segala harapan dan cita-cita para murid akan bayang-bayang kejayaan hidup bersama Yesus Sang Mesias. Ternyata selama ini, mereka gagal paham akan arti Mesias yang terdeskripsi dalam diri Yesus. Secara terbuka dan jelas, Yesus merubah cara pandang para murid mengenai kata Mesias. Ia bukan seperti raja Daud atau raja duniawi mana pun, yang akan duduk di singgasana kerajaan Duniawi. Yesus memang Mesias. Namun Ia adalah raja ilahi yang datang ke dunia untuk menyelamatkan umat manusia bukan dari penjajahan bangsa asing. Tetapi dari penjajahan dosa-dosa duniawi.

 

Dan puncak dari kejayaan dan kemuliaan-Nya sebagai Sang Mesias adalah ketika Ia harus menderita dalam jalan salib, mati di kayu salib, dimakamkan dan kemudian bangkit. Di sinilah letak agung keMesiasan-Nya untuk membawa sebanyak mungkin manusia keluar dari belenggu dosa untuk masuk dalam Kerajaan Sorga. Inilah cita-cita mulia dari Sang Mesias yang ingin mendaratkan kehendak Bapa di sorga yakni seluruh umat manusia dapat mencapai nirwana keselamatan. Para murid entah suka atau tidak suka, senang atau tidak senang, harus mulai menyadari inilah cita-cita Sang Mesias yang sementara diretas untuk segera mencapai puncaknya. Siapa yang tidak tahan harus segera mengundurkan diri. Namun dalam situasi kebatinan para murid yang lagi dilematis, Yesus tetap memberi arahan, kekuatan dan peneguhan agar mereka tetap bertahan. Karena hanya orang-orang yang mampu bertahanlah yang akan mendapatkan keselamatan dan kenikmatan ilahi.

 

Kejayaan dan kemuliaan hidup yang digaungkan oleh Yesus sebagai Mesias baru, berbanding terbalik dengan konsep mesianik lama, yang melihat Yesus sekedar raja duniawi. Dalam konsep mesiani baru, Yesus adalah raja ilahi yang membawa kemuliaan sorgawi di tengah dunia. Orang harus melepaskan keterikatan akan kesenangan dan kenikmatan duniawinya. Karena mereka harus meminum “cawan” yang Ia berikan. Orang harus bertahan banyak dalam kesulitan, kesusahan dan penderitaan. Inilah jalan hidup setiap orang beriman yang dimaknai sebagai jalan salib menuju keselamatan kekal. Tidak ada keselamatan tanpa usaha yang remeh temeh. Orang harus berjuang dan memiliki komitmen yang kuat. Mengikuti Yesus sebagai Mesias berarti harus rela meninggalkan kemapanan dan kenyamanan duniawi. Orang harus siap melayani, dan bukan siap dilayani. Orang harus rela memberi dan bukan rela diberi.

 

Pertanyaan Yesus kepada Salome dan dua anaknya (Yohanes dan Yakobus): “Dapatkah kamu meminum cawan yang harus Kuminum” (Mat 20:22), menembus jauh di kedalaman hidup dan pengalaman kita sebagai para pengikut Yesus di masa kini. Bahwa kadangkala atau seringkali kita belum siap atau menolak meminum cawan yang diberikan oleh Yesus. Kita belum siap menderita bersama Yesus di dalam jalan salib kehidupan ini. Kita masih hidup dan ingin hidup dalam gelimangan harta, jabatan, status sosial, budaya hedonisme, dan pelbagai kenikmatan lain yang membelenggu hidup. Kita masih suka dilayani, gila akan rasa hormat dan pujian, dan suka menindas orang demi mendapatkan keuntungan sesaat.

 

Momen masa prapaskah mengarahkan kita untuk mencari harta sorgawi, dan bukan sebaliknya sibuk mencari harta duniawi. Mari kita mencari harta sorgawi dengan selalu melaksanakan kehendak Tuhan dalam hidup. Kita harus rela menanggalkan kemapanan dan kenyamanan hidup demi menghidupi semangat pelayanan dan kasih kepada orang lain. 

Senin, 21 Maret 2022

Menjadi Tanda Yang Baik

Luk 11:29-32

 

Tanda mengandung makna yang sangat variatif. Tanda digunakan untuk menunjuk sesuatu yang lain. Tanda dapat berupa benda, sifat, kejadian, dan lain sebagainya. KTP atau Kartu Tanda Pengenal misalnya, menempati kedudukan sebagai tanda khusus bagi orang tertentu sehingga dapat diketahui dan dikenali dengan mudah oleh orang lain. Mendung yang muncul di atap langit misalnya, dapat menjadi tanda bahwa akan segera turun hujan. Atau ketika mencium aroma yang tidak sedap di lingkungan rumah, dapat menjadi tanda ada bangkai hewan atau sampah busuk yang tercecer di sekitar lingkungan tempat tinggal. Dan masih banyak lain tanda-tanda lain yang kita alami dalam kehidupan sehari-hari.

Sesuatu yang aneh, tidak lazim, dan spektakuler itu seringkali menjadi bahan percakapan dan pergunjingan banyak orang. Ia bisa menjadi polemik dan mulai dihubung-hubungkan dengan tanda tertentu. Bisa jadi tanda itu mengarah ke hal yang positif atau negatif. Ketika melihat banyak hal fenomenal yang ada dalam dan diperbuat oleh Yesus, banyak orang semakin penasaran. Rasa penasaran inilah yang mendorong orang untuk datang kepada Yesus dan meminta tanda dari-Nya. Tanda yang diminta ini menjadi simbol otoritas atau wewenang bagi orang untuk melakukan sesuatu. Apalagi melakukan sesuatu yang ajaib seperti yang dibuat oleh Yesus. Banyak orang yang mengerumuni Yesus rupanya masih merasa kabur, bingung, dan tidak percaya dengan apa yang dilakukan oleh Yesus. Sehingga tanpa ragu-ragu, mereka meminta sebuah tanda khusus dari Yesus.

Bukannya memenuhi rasa penasaran publik dengan memberikan jawaban yang pasti, Yesus malah balik mengecam mereka. “Angkatan ini adalah angkatan yang jahat. Mereka menghendaki suatu tanda, tetapi kepada mereka tidak akan diberikan tanda selain tanda nabi Yunus” (Luk 11:29). Yesus membandingkan orang-orang sezaman-Nya, dengan orang-orang pada masa nabi Yunus. Walaupun orang Niniwe dilabeli sebagai orang-orang jahat, namun mereka dapat mengenali tanda yang dibawa oleh nabi Yunus. Nabi Yunus membawa tanda ilahi dari Allah, sehingga mampu menggerakkan orang Niniwe untuk bertobat dan kembali ke jalan yang benar.

Lain orang Niniwe, lain pula orang sezaman Yesus. Walaupun sudah melihat hal-hal ajaib yang dilakukan oleh Yesus dengan terang benderang, mereka tetap merasa ragu dan tidak percaya bahwa Yesus adalah yang ilahi. Keragu-raguaan dan ketidakpercayaan mereka sebenarnya dilandasi oleh sikap ego dan sombong. Mereka merasa diri lebih hebat dan pintar. Mereka tidak mau kehadiran Yesus dapat menghilangkan status dan prestise dalam diri mereka. Terutama para elit agama yang merasa terancam akan kehilangan simpati dan dukungan dari rakyat banyak.

Sikap ego, angkuh, dan iri hati seringkali membelenggu diri kita sebagai orang beriman. Acapkali kita merasa diri lebih hebat dan pintar dibandingkan dengan orang lain. Kita tidak mau ada orang lain yang melampaui diri kita dalam hal tertentu. Ketika dihadapkan dengan realitas bahwa ada orang lain memiliki kemampuan atau kompetensi yang mumpuni, timbul penolakan dalam diri. Kita tidak mau menerima kenyataan demikian. Maka mulai muncul pula sikap-sikap destruktif lainnya. Kita mulai menaruh sikap sentimen, iri hati dan permusuhan. Dalam setiap kesempatan berhadapan dengan orang-orang tertentu yang tidak kita sukai, ada saja pikiran atau argumen sesat yang kita bangun untuk mendiskreditkan atau menjatuhkan pihak lain.

Sikap ego dan angkuh menjadi batu sandungan utama bagi kita dalam membangun relasi yang penuh persaudaraan dan kekeluargaan. Sikap ego dan angkuh selalu memunculkan prasangka, curiga, dan vonis yang tidak benar. Dan pada akhirnya, suasana kehidupan sosial kita menjadi terluka dan terhempas. Kita lebih peduli dengan diri sendiri dan keluarga. Tetapi nihil bagi sesama kita yang lain. ketidakpedulian dengan sesama bisa juga memunculkan sikap ego dan angkuh dalam diri kita terhadap Tuhan. Kita mulai merasa tidak penting untuk membangun relasi dengan Tuhan. Kita mulai apatis dengan kehidupan rohani. Karena kita merasa diri kita adalah titik sentral dalam kehidupan ini. Semua hal apa saja yang terjadi selalu berada di bawah kendali kemampuan dan kompetensi pribadi. Dan Tuhan menjadi entitas yang kosong, tanpa makna.


Hari ini Tuhan menyadarkan kita untuk mulai berbenah diri dan menjadi lebih baik. Kita harus melepaskan sikap ego dan angkuh di hadapan Tuhan. Kita seyogyanya memasrahkan dan menyerahkan diri ke dalam penyelenggaraan ilahi-Nya. Kita mulai sadar bahwa Yesus tidak sekedar menjadi tanda ilahi. Dia sebenarnya adalah Mesias, Anak Allah yang hidup. Kesadaran inilah yang kemudian membawa kita untuk memoles diri menjadi tanda yang baik. Tanda yang mewartakan kasih dan perdamaian bagi orang lain. Semoga di masa prapaskah ini, kita terus merefleksi diri dan kemudian memompa diri menjadi pribadi yang semakin baik di mata Tuhan. Di tengah situasi hidup yang semakin kompleks dan beragam, semoga kita mampu menjadi tanda yang baik bagi orang lain. Sebuah tanda ilahi yang dapat menciptakan nuansa kehidupan yang penuh persaudaraan dan kekeluargaan.