Luk 2:22-35
Teringat dalam benak saya, ada sebuah tradisi unik
yang harus dilewati oleh setiap anak laki-laki sulung di kampung saya (Kampung
Atawuwur). Tradisi itu semacam proses pentahiran (penyucian) diri. Tetapi
tradisi ini hanya berlaku wajib untuk anak laki-laki sulung dalam suku. Bisa
juga dilakukan untuk anak-anak nomor dua dan selanjutnya, tetapi tidak bersifat
wajib. Seorang anak laki-laki sulung akan dimandikan dengan menggunakan air
yang sudah terisi dalam bambu. Air dalam bambu diambil dari mata air yang ada
dalam kampung tersebut. Orang yang mengambil air tersebut juga bukan sembarang
orang. Tentu dia memiliki pangkat dan kedudukan yang otoritatif dalam struktur
adat. Begitu pun juga orang yang akan memandikan sang anak laki-laki sulung.
Dia sudah ditentukan sesuai dengan tradisi lisan yang diakui dan telah dihidupi
secara turun temurun. Konon, jikalau tradisi ini tidak dilakukan atau dilanggar
maka akan mendatangkan tulah bagi keluarga yang bersangkutan.
Dalam bacaan Injil hari ini (Luk 2:22-35), Yosef
dan Maria juga membawa bayi Yesus ke Bait Allah untuk mengikuti upacara
pentahiran anak sesuai dengan tradisi yang berlaku dalam agama Yahudi. Karena
berasal dari akar Yahudi yang kuat, Yosef dan Maria harus mengikuti segala
aturan yang sudah digariskan dalam agama mereka. Dan yang lebih penting adalah
mereka menghendaki Anak Yesus dapat tumbuh dan berkembang secara baik. Baik
dalam pelbagai dimensi kehidupan karena mereka sungguh taat pada tradisi atau
adat yang berlaku.
Menarik bahwa di dalam Bait Allah itu sudah
menunggu seseorang yang dikenal benar dan saleh di hadapan Allah. Ketika datang
ke Bait Allah, ia sudah “penuh” dengan roh kudus. Roh Kuduslah yang membimbing
dirinya untuk datang ke Bait Allah. Dalam nazarnya, ia berkeyakinan bahwa
sebelum kematian datang menjemput, ia pasti akan segera bertemu dengan Mesias.
Sang penyelamat umat manusia yang sudah dijanjikan oleh Allah. Dan Bait Allah
akan menjadi saksi bisu bagi Simeon untuk segera bertemu dengan Yesus.
Moment berahmat yang diharapkan oleh Simeon itu pun
terjadi. Melalui mata batinnya yang tajam, ia langsung menangkap pancaran ilahi
yang keluar dari bayi Yesus; yang datang bersama kedua orang tuanya (Yosef dan
Maria). Tanpa ragu, ia menggendong bayi Yesus dan memuji Allah. Simeon merasa
terharu dan bangga karena nazarnya telah terpenuhi. Ia sudah melihat dengan
mata kepalanya sendiri, Sang Utusan yang dijanjikan oleh Allah. Ia pun berharap
segera dipanggil oleh Tuhan, karena janji Tuhan untuk menyelamatkan umat
manusia segera akan terwujud dalam Diri Sang Bayi mungil.
Simeon bisa melihat Yesus sebagai bayi yang tidak
biasa, bayi yang berbeda dengan bayi-bayi yang lain karena ia memiliki
kedekatan yang sangat akrab dengan Tuhan. Ia memiliki kerendahan hati untuk
menyerahkan diri sepenuhnya kepada kehendak Allah. Jikalau ia tidak memiliki
keutamaan demikian, niscaya ia tidak mampu membaca pesan ilahi yang nampak
dalam diri Yesus. Yosef dan Maria pun dibuat bingung dengan apa yang dikatakan
dan dilakukan oleh Simeon kepada bayi Yesus. Namun dalam keheranan yang
menyelimuti diri, mereka sangat yakin akan kebesaran dan kemahakuasaan Allah
yang terjadi dalam hidup manusia.
Seperti Simeon yang sungguh percaya akan kuasa
Allah, demikian juga Yosef dan Maria. Walaupun masih terbungkus misteri tentang
sosok Yesus, Yosef dan Maria sangat percaya kepada kehendak Tuhan yang terjadi
dalam hidup mereka. Dengan penuh kerendahan hati, mereka menyerahkan diri
sepenuhnya kepada Allah. “Terjadilah padaku menurut perkataan-Mu”, demikian
jawaban Maria kepada Allah melalui malaikat Gabriel. Yosef dan Maria pun tidak
takut atau cemas ketika ditantang oleh Simeon. Bahwa mereka akan mengalami
pengalaman tantangan dan penderitaan yang luar biasa oleh karena anak yang
bernama Yesus. “Sesungguhnya Anak ini ditentukan untuk menjatuhkan atau
membangkitkan banyak orang Israel dan menjadi suatu tanda yang menimbulkan
perbantahan. Dan suatu pedang akan menembus jiwamu sendiri supaya menjadi nyata
pikiran hati banyak orang” (Luk 2:34-35).
Sikap percaya dengan penuh kerendahan hati menjadi
kunci iman Simeon, Yosef dan Maria kepada Allah. Mereka sangat yakin, Tuhan
sementara mendesain hal-hal yang baik melalui diri Yesus. Tidak saja bagi diri
mereka, tetapi bagi seluruh umat manusia. Allah sementara bekerja untuk membawa
kebaikan dan keselamatan. Tidak peduli seberat apa pun tantangan yang nantinya
dihadapi, penyerahan diri yang total kepada kehendak Allah menjadi pilihan
hidup yang tidak bisa ditawar atau dikompromikan dalam diri Yosef dan Maria.
Melalui diri Yosef dan Maria, proyek keselamatan bagi umat manusia itu
sementara dirintis. Dan hanya mereka yang memiliki hati yang bersih dan terbuka
terhadap Allah, seperti Simeon, yang mampu membuka tabir misteri keselamatan
dari-Nya.
Yesus telah datang dan hadir di tengah-tengah kita
pada hari Natal. Lebih khusus lagi, Ia telah masuk ke dalam kandang hati kita
masing-masing dan bersemayam di dalamnya. Apakah kita sungguh percaya kepada
Dia? Atau kah kita merasa biasa-biasa saja. Bisa juga kita hanya mengangggap
kedatangan-Nya hanya sebagai sebuah ritus tahunan atau seremonial iman yang
formalistik. Apabila kita masih berada dalama tataran ini, maka kita belum
sungguh-sungguh mempunyai iman yang kokoh dan total kepada Tuhan. Kita gampang
jatuh ke dalam sikap pongah. Kita merasa diri paling hebat dan mengklaim segala
kebenaran selalu berada di pihak kita. kita juga gampang mencuci tangan atau
mudah mencari kambing manakala menemui jalan buntu atau kesulitan dalam setiap
pengalaman hidup yang dialami.
Mari kita belajar dari Simeon, Yusuf dan Maria, yang dengan penuh
kerendahan hati, sungguh percaya dan mau menyerahkan diri secara total kepada
Tuhan. Hanya dengan sikap demikian, iman kita kepada Tuhan sungguh-sungguh
dimatangkan. Kita tidak pernah takut dengan setiap tantangan, kegagalan, atau
bahkan penderitatan hidup, Karena kita percaya, Tuhan sudah merencanakan
kebaikan dan keselamatan dalam hidup kita. Ia yang telah datang dan memenuhi
hati kita masing-masing pada hari Natal, akan memberi jaminanan kebaikan dan
keselamatan itu. Oleh karena itu marilah kita sungguh percaya dan menyerahkan
diri dalam penyelenggaraan ilahi-Nya. Amin. ***AKD***