Minggu, 17 Januari 2021

PUASA DAN PERUBAHAN DIRI

 

Mrk 2:18-22

Apa yang anda ketahui tentang puasa? Pertanyaan sederhana ini pernah saya ajukan ke beberapa orang dengan latar kehidupan yang berbeda-beda. Jawaban yang diberikan juga tampak beragam. Ada yang memahami puasa secara jasmaniah yakni tidak makan dan minum. Ada pula yang menjelaskan makna puasa dari sisi batiniah dan rohani. Bahwa esensi puasa itu orang harus mengekang atau meminimalisir segala keinginan duniawinya. Orang harus menjaga pola pikirnya dengan berpikir yang baik. Tidak menaruh prasangka dan curiga kepada sesamanya. Orang juga harus menjaga tingkah lakunya dengan berbuat dan bertindak yang positif. Orang harus lebih peka untuk menghargai dan menghormati sesamanya. Lebih peduli untuk membantu dan menolong sesama yang berkekurangan dan membutuhkan uluran tangan. Tidak menjadikan orang lain sebagai sarana untuk mengeruk keuntungan pribadi. Dalam berpuasa juga orang harus meningkatkan kehidupan rohaninya dengan berdoa dan berderma.

 

Pertanyaan tentang puasa juga disampaikan oleh orang banyak kepada Yesus. Mereka mempertanyakan mengapa para murid Yesus tidak berpuasa. Sedangkan orang-orang Farisi dan para murid Yohanes khusyuk melakukan puasa. Memang momen puasa saat itu sesuai dengan tradisi dan aturan bangsa Yahudi. Lebih khusus, murid-murid Yohanes menjalankan puasa sebagai bentuk keprihatinan dan dukungan kepada guru mereka, Yohanes Pembaptis, yang sementara berada di dalam penjara. Dan menjadi aneh dan tidak lazim apabila para murid Yesus tidak melakukan puasa dalam momen tersebut.

 

Merespon pertanyaan orang banyak demikian, Yesus memberi jawaban dengan pernyataan alegoris atau analogi. Tiga kata kunci bermakna simbolik yang diungkap Yesus yakni mempelai, kain dan anggur. Yesus mengatakan: “Dapatkah sahabat-sahabat mempelai laki-laki berpuasa sedang mempelai itu bersama mereka? Selama mempelai itu bersama mereka, mereka tidak dapat berpuasa” (Mrk 2:19). Yesus menggunakan kata mempelai untuk membeberkan hubungan-Nya yang begitu intim dengan para murid-Nya. Kata mempelai juga dapat ditemukan dalam Kitab Perjanjian Lama yang mengungkap relasi personal antara Allah dan umat Israel. Dengan demikian, selama masih ada mempelai (Yesus) bersama dengan para sahabatnya (murid-murid Yesus) maka tidak ada puasa. Tidak ada suasana perkabungan atau dukacita yang menaungi hubungan persaudaraan mereka. Yang terjadi hanyalah sukacita dan kegembiraan. Yesus sebagai mempelai datang membawa kabar gembira tentang keselamatan bagi para sahabat-Nya (tidak terbatas bagi para murid). Oleh karena itu, seyogyanya, semua orang harus merayakannya dengan sukacita dan kegembiraan. Yesus menambahkan bahwa puasa itu akan terjadi apabila sang mempelai sudah tidak ada lagi bersama-sama dengan para kekasihnya.

 

Pernyataan tentang makna puasa yang sejati terungkap dalam dua kata yakni kain dan anggur. “Tidak seorangpun menambalkan secarik kain yang belum susut pada baju yang tua, karena jika demikian kain penambal itu akan mencabiknya, yang baru mencabik yang tua, lalu makin besarlah koyaknya” (Mrk 2:21). Yesus membuka cakrawala berpikir orang banyak bahwa sangat mustahil orang melakukan puasa, sementara hatinya diliputi oleh kebencian, amarah, dengki dan iri hati. Tidak akan terjadi perubahan dalam diri karena orang-orang masih terikat dengan manusia lamanya yang negatif. Cita-cita perubahan yang melahirkan kemurnian dalam esensi puasa dapat tercapai apabila manusia mau meninggalkan kelekatan-kelekatan duniawi. Justru yang terjadi adalah legalisasi sikap-sikap formalistik belaka. Orang sekedar menjalankan aturan dan tradisi agama. Tidak lebih dari itu.

 

“Demikian juga tidak seorangpun mengisikan anggur yang baru ke dalam kantong kulit yang tua, karena jika demikian anggur itu akan mengoyakkan kantong itu, sehingga anggur itu dan kantongnya dua-duanya terbuang. Tetapi anggur yang baru hendaknya disimpan dalam kantong yang baru pula” (Mrk 2;22). Sikap kepura-puraan dan kemunafikan dari orang-orang yang melakukan puasa tergambar juga dari teks tersebut. Orang begitu menggebu-gebu melakukan puasa, sementara hatinya tidak siap untuk menerima anugerah Tuhan dalam hatinya. Hatinya masih terbuat dari kantong lama yang tidak bersih dan beraroma busuk. Orang harus mengganti kantong lamanya dengan kantong yang baru sehingga anggur baru yang masuk tidak akan terbuang dan menjadi sia-sia. Orang harus membersihkan dirinya dengan memperbaiki pola pikir dan tingkah lakunya sehingga esensi puasanya betul-betul terpenuhi. Tidak hanya sekedar menjalankan aturan dan tradisi. Namun berangkat dari ketulusan dan kemitmen untuk menjadi pribadi yang bersih dan layak untuk menjadi Bait Allah yang kudus.

 

Sebagai orang Katolik, kita juga seringkali menampilkan diri sebagai orang-orang Farisi modern yang menjalani puasa hanya sebagai legal-formal semata. Kita berpuasa demi tuntutan aturan keagamaan semata. Esensi puasa kita juga bersifat materi (jasmani). Lebih menonjolkan pengekangan di tataran makanan dan minuman. Kita merasa sudah lengkap kalau kita bisa menahan lapar dan haus. Fatalnya, kita acapkali mempertontonkannya di muka publik. Kita mau supaya orang lain juga tahu kalau kita sedang berpuasa. Jika demikian, maka esensi puasa kita tidak lebih baik dari pada orang-orang Farisi di zaman Yesus. Kita memiliki esensi puasa yang dangkal. Tidak bermakna. Puasa yang kita jalani sebenarnya tidak membawa perubahan yang baik dalam diri kita. Karena kita masih memakai “baju yang tua” dan “kulit anggur yang tua”. Kita belum benar-benar bersih dan steril karena sikap dan perilaku yang destruktif.

 

Hari ini kita semua diajak untuk memahami esensi puasa yang sebenarnya dalam hidup iman kita. Puasa itu tidak sekedar menahan lapar dan haus. Puasa juga tidak sekedar mengekang segala keinginan-keinginan duniawi. Puasa itu adalah segala niat untuk melaksanakan yang baik dan menghindari segala yang buruk. Puasa itu kesediaan diri untuk menerima segala kebaikan yang masuk dalam diri. Kita harus berani melepaskan segala kemapanan dan kenyamanan yang selama ini telah membelenggu diri kita. Kita harus berani keluar dari kotak hidup yang melelapkan dan memberi kita kenikmatan. Itulah esensi puasa yang hakiki dalam hidup kita. Esensi puasa yang membawa perubahan positif dalam diri. Mari kita mengejawantakan esensi puasa yang sungguh-sungguh menjadikan kita mitra Tuhan untuk membawa perubahan yang positif tidak hanya bagi diri sendiri tetapi juga bagi orang lain. Semoga. ***Atanasius KD Labaona***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar