Minggu, 24 Januari 2021

PERCAYA SUNGGUH-SUNGGUH

 Mrk 16: 15-18

Saya mengenal seorang bapak yang dalam banyak hal telah memberi inspirasi kehidupan yang sangat bermanfaat bagi pribadi saya. Ia seorang pribadi yang komunikatif, ramah, bijaksana dan rendah hati. Aspek lain yang menonjol dalam pribadinya adalah kehidupan rohaninya yang mumpuni. Saya melihat ada pojok rohani khusus di rumahnya yang selalu terang oleh cahaya lilin. Tidak tahu ia berdoa berapa kali dalam sehari. Tetapi yang pasti, ia sangat intens membangun komunikasi pribadinya bersama Tuhan. Sang bapak ini dikenal juga sebagai pribadi karismatik. Karena memiliki keunggulan lain untuk menyembuhkan orang sakit dengan kekuatan doanya. Banyak orang yang mengalami “stagnasi” dalam kualitas hidup, datang kepadanya untuk memohon doa penguatan. Ia akan dengan setia melayani semua orang tanpa pamrih. Baginya, panggilan melayani semua orang adalah sebuah tugas mulia dari Tuhan yang wajib dilaksanakan. Ia banyak memberi nasihat kepada saya agar jangan pernah melupakan Tuhan. Sikap percaya itu harus total. Tidak setengah-setengah.

 

Pernah saya menyampaikan keluhan kepadanya, mengapa saya gampang merasa sakit, lemah dan cepat stress dalam hidup. Dengan tegas ia mengatakan bahwa prosentasi kepercayaan saya kepada Tuhan masih kurang. Saya harus lebih meningkatkan sikap percaya kepada Tuhan dengan berdoa lebih total dan melayani orang lain di sekitar saya dengan tulus. Kalau dua hal ini sudah dilakukan maka kita dapat memiliki kekuatan yang tidak hanya menolong diri kita sendiri, tetapi juga orang lain yang membutuhkan. Saya tidak tahu persis jenis kekuatan apa yang beliau maksudkan. Yang saya pahami bahwa kekuatan itu semacam vitamin yang menambah imunitas agar tubuh tidak gampang sakit. Saya tidak gampang goyah dalam menghadapi kompleksitas hidup. Saya semakin dikuatkan dalam banyak hal oleh karena sikap percaya yang total kepada Tuhan. Dengan anugerah yang terberi, saya juga bisa hadir memberi kesaksian bagi orang lain. Kehadiran saya bisa menolong, menyembuhkan, menghibur dan membawa berkat bagi mereka yang membutuhkan. Tentu hal ini terlihat mudah untuk diucapkan. Sang bapak telah memberi bukti bahwa dalam Tuhan tidak ada yang mustahil. Asalkan kita sungguh memiliki sikap percaya kepada-Nya.

 

Yesus telah menegaskan dalam firman-Nya: “Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala makhluk. Tanda-tanda  ini akan menyertai orang-orang yang percaya: mereka akan mengusir setan-setan demi nama-Ku, mereka akan berbicara dalam bahasa-bahasa yang baru bagi mereka, mereka akan memegang ular, dan sekalipun mereka minum racun maut, mereka tidak akan mendapat celaka; mereka akan meletakkan tangannya atas orang sakit, dan orang itu akan  sembuh” (Mrk 16:15.17-18). Yesus menekankan sikap percaya harus pertama-tama dimiliki oleh para murid-Nya. Dengan sikap percaya yang total kepada-Nya maka mereka akan mendapat segala karunia dari Tuhan. Aneka karunia tersebut sudah secara eksplisit digambarkan oleh Yesus dalam sabda-Nya. Tinggal para murid meresapi, menghayati dan mengeksekusi dalam hidup iman mereka. Pasti ada banyak tantangan, kesulitan, dan halangan yang mereka hadapi dalam melanjutkan karya penyelamatan yang ditinggalkan oleh Yesus. Inilah konsekuensi-konsekuensi yang harus mereka pikul sebagai seorang murid. Namun, segala karunia sebagai sumber kekuatan secara otomatis akan terberi dalam diri mereka. Pelbagai anugerah yang mereka terima akan semakin menguatkan perjalanan panggilan untuk meneruskan karya penyelamatan yang telah mereka terima dari Yesus.

 

Sikap percaya secara total yang ditandai dengan pelbagai anugerah ajaib dalam diri para murid tidak hanya tetap tinggal dalam diri mereka. Para murid kemudian harus memiliki keberanian dan semangat yang bernyala-nyala untuk memberi kesaksian akan Yesus kepada orang lain. Orang-orang yang tergerak hatinya dan menjadi percaya akan mengalami juga berkat-berkat khusus seperti yang dialami ole para rasul. Jadi berkat itu tidak hanya mutlak dimiliki para murid pertama. Tetapi bisa didapat oleh mereka yang sungguh-sungguh menaru kepercayaan akan Tuhan. Tanda-tanda ajaib bagi orang-orang yang sungguh percaya kepada Tuhan inilah yang semakin menambah semangat dan mendorong para pewarta Injil Tuhan untuk terus berkarya sampai titik darah penghabisan. Bagi mereka yang belum atau tidak memiliki sikap percaya, cahaya Tuhan akan turun dan senantiasa memberi kesadaran untuk bertobat.

Pengalaman pertobatan St. Paulus telah memberi catatan emas dalam sejarah kehidupan iman kristiani. Sebelum berganti nama menjadi Paulus, ia adalah saulus. Seorang intelektual muda sekaligus panglima Yahudi yang mengobarkan perang terhadap para pengikuti Yesus. Tidak hanya berkutat dengan ide-ide cemerlang untuk membuat konsep dan berbagai kebijakan untuk menghambat laju iman krisntiani, Saulus juga turun langsung mengeksekusi berbagai rencana jahat untuk meredam ajaran agama Kristen dan menghabisi para pengikutnya. Namun Tuhan memiliki rencana lain dalam diri Saulus. Dalam perjalanan ke Damsyik untuk mengejar para pengikut Yesus, Saulus mengalami suatu pengalaman ajaib yang merubah seluruh gerak hidupnya secara radikal. Ia jatuh ke tanah dari kudanya oleh karena seberkas cahaya Tuhan yang menerpa wajahnya. Dalam penglihatannya, Tuhan memperkenalkan diri-Nya secara langsung dan meminta Saulus untuk menjadi laskarnya yang setia. Saulus pun berganti nama menjadi Paulus. Sebuah perubahan nama yang menandai perubahan sikap Paulus untuk percaya dengan sungguh-sungguh kepada Tuhan. Percaya tidak hanya dalam kata-kata. Namun dalam sikap hidupnya yang militan, Paulus mampu membawa banyak orang untuk bertobat dan percaya kepada Tuhan.

 

Sikap percaya dengan sungguh-sungguh kepada Tuhan menjadi sebuah nilai yang mahal harganya di zaman ini. Banyak orang Katolik yang entah secara pribadi maupun publik tidak segan-segan mengkampanyekan diri mereka sebagai seorang pengikut Yesus yang setia. Mereka rajin berdoa. Setia mengumpulkan derma di gereja. Mereka juga berlaku seolah-olah menjadi makhluk yang suci di hadapan Tuhan. Tanpa beban mereka menjustifikasi orang lain sebagai orang yang bersalah atau berdosa. Mereka tanpa malu memberi nasihat dan mencari jalan keluar. Itu semua hanya kamuflase diri. Mereka berusaha menyamarkan jati diri mereka yang sesungguhnya. Mereka kelihatan sungguh-sungguh beriman atau percaya kepada Tuhan. Namun sesungguhnya tidak seperti itu. Hati mereka jauh dari Allah. Mereka tidak memiliki kepercayaan yang teguh kepada Tuhan. Orang-orang beriman dangkal ini terkurung dalam ego untuk mencari keuntungan pribadi semata. Mereka menampilkan diri seolah-olah beriman kepada Tuhan hanya untuk mendongkel atau mencari popularitas diri. Mereka juga sering memanfaatkan orang lain untuk mengeruk keuntungan secara ekonomi. Mereka mendapatkan kekayaan atau harta secara tidak halal. Mereka mengambil dari bagian yang seharusnya bukan menjadi milik atau hak mereka. Mereka menipu orang lain karena itu adalah satu-satunya jalan untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan.

 

Hari ini kita semua diingatkan untuk membangun sikap percaya dengan sungguh-sungguh kepada Tuhan. Sikap percaya tidak hanya dengan kata-kata kosong. Sikap percaya yang tidak dilabeli oleh sikap-sikap munafik. Sikap percaya yang total berarti sikap percaya yang keluar dari kerendahan hati dan ketulusan jiwa. Kita tidak hanya berdoa dengan penuh penyerahan diri, memberi derma dengan ketulusan hati, tetapi mampu menjadi saksi-saksi hidup bagi Tuhan dalam setiap tutur kata dan perbuatan yang membawa kedamaian, kegembiraan, dan penyembuhan. Tidak hanya bagi diri sendiri tetapi bagi orang lain yang membutuhkan. Itulah berkat atau anugerah berlimpah dari sikap percaya yang total kepada Tuhan. Amin. ***Atanasius KD Labaona***

Minggu, 17 Januari 2021

PUASA DAN PERUBAHAN DIRI

 

Mrk 2:18-22

Apa yang anda ketahui tentang puasa? Pertanyaan sederhana ini pernah saya ajukan ke beberapa orang dengan latar kehidupan yang berbeda-beda. Jawaban yang diberikan juga tampak beragam. Ada yang memahami puasa secara jasmaniah yakni tidak makan dan minum. Ada pula yang menjelaskan makna puasa dari sisi batiniah dan rohani. Bahwa esensi puasa itu orang harus mengekang atau meminimalisir segala keinginan duniawinya. Orang harus menjaga pola pikirnya dengan berpikir yang baik. Tidak menaruh prasangka dan curiga kepada sesamanya. Orang juga harus menjaga tingkah lakunya dengan berbuat dan bertindak yang positif. Orang harus lebih peka untuk menghargai dan menghormati sesamanya. Lebih peduli untuk membantu dan menolong sesama yang berkekurangan dan membutuhkan uluran tangan. Tidak menjadikan orang lain sebagai sarana untuk mengeruk keuntungan pribadi. Dalam berpuasa juga orang harus meningkatkan kehidupan rohaninya dengan berdoa dan berderma.

 

Pertanyaan tentang puasa juga disampaikan oleh orang banyak kepada Yesus. Mereka mempertanyakan mengapa para murid Yesus tidak berpuasa. Sedangkan orang-orang Farisi dan para murid Yohanes khusyuk melakukan puasa. Memang momen puasa saat itu sesuai dengan tradisi dan aturan bangsa Yahudi. Lebih khusus, murid-murid Yohanes menjalankan puasa sebagai bentuk keprihatinan dan dukungan kepada guru mereka, Yohanes Pembaptis, yang sementara berada di dalam penjara. Dan menjadi aneh dan tidak lazim apabila para murid Yesus tidak melakukan puasa dalam momen tersebut.

 

Merespon pertanyaan orang banyak demikian, Yesus memberi jawaban dengan pernyataan alegoris atau analogi. Tiga kata kunci bermakna simbolik yang diungkap Yesus yakni mempelai, kain dan anggur. Yesus mengatakan: “Dapatkah sahabat-sahabat mempelai laki-laki berpuasa sedang mempelai itu bersama mereka? Selama mempelai itu bersama mereka, mereka tidak dapat berpuasa” (Mrk 2:19). Yesus menggunakan kata mempelai untuk membeberkan hubungan-Nya yang begitu intim dengan para murid-Nya. Kata mempelai juga dapat ditemukan dalam Kitab Perjanjian Lama yang mengungkap relasi personal antara Allah dan umat Israel. Dengan demikian, selama masih ada mempelai (Yesus) bersama dengan para sahabatnya (murid-murid Yesus) maka tidak ada puasa. Tidak ada suasana perkabungan atau dukacita yang menaungi hubungan persaudaraan mereka. Yang terjadi hanyalah sukacita dan kegembiraan. Yesus sebagai mempelai datang membawa kabar gembira tentang keselamatan bagi para sahabat-Nya (tidak terbatas bagi para murid). Oleh karena itu, seyogyanya, semua orang harus merayakannya dengan sukacita dan kegembiraan. Yesus menambahkan bahwa puasa itu akan terjadi apabila sang mempelai sudah tidak ada lagi bersama-sama dengan para kekasihnya.

 

Pernyataan tentang makna puasa yang sejati terungkap dalam dua kata yakni kain dan anggur. “Tidak seorangpun menambalkan secarik kain yang belum susut pada baju yang tua, karena jika demikian kain penambal itu akan mencabiknya, yang baru mencabik yang tua, lalu makin besarlah koyaknya” (Mrk 2:21). Yesus membuka cakrawala berpikir orang banyak bahwa sangat mustahil orang melakukan puasa, sementara hatinya diliputi oleh kebencian, amarah, dengki dan iri hati. Tidak akan terjadi perubahan dalam diri karena orang-orang masih terikat dengan manusia lamanya yang negatif. Cita-cita perubahan yang melahirkan kemurnian dalam esensi puasa dapat tercapai apabila manusia mau meninggalkan kelekatan-kelekatan duniawi. Justru yang terjadi adalah legalisasi sikap-sikap formalistik belaka. Orang sekedar menjalankan aturan dan tradisi agama. Tidak lebih dari itu.

 

“Demikian juga tidak seorangpun mengisikan anggur yang baru ke dalam kantong kulit yang tua, karena jika demikian anggur itu akan mengoyakkan kantong itu, sehingga anggur itu dan kantongnya dua-duanya terbuang. Tetapi anggur yang baru hendaknya disimpan dalam kantong yang baru pula” (Mrk 2;22). Sikap kepura-puraan dan kemunafikan dari orang-orang yang melakukan puasa tergambar juga dari teks tersebut. Orang begitu menggebu-gebu melakukan puasa, sementara hatinya tidak siap untuk menerima anugerah Tuhan dalam hatinya. Hatinya masih terbuat dari kantong lama yang tidak bersih dan beraroma busuk. Orang harus mengganti kantong lamanya dengan kantong yang baru sehingga anggur baru yang masuk tidak akan terbuang dan menjadi sia-sia. Orang harus membersihkan dirinya dengan memperbaiki pola pikir dan tingkah lakunya sehingga esensi puasanya betul-betul terpenuhi. Tidak hanya sekedar menjalankan aturan dan tradisi. Namun berangkat dari ketulusan dan kemitmen untuk menjadi pribadi yang bersih dan layak untuk menjadi Bait Allah yang kudus.

 

Sebagai orang Katolik, kita juga seringkali menampilkan diri sebagai orang-orang Farisi modern yang menjalani puasa hanya sebagai legal-formal semata. Kita berpuasa demi tuntutan aturan keagamaan semata. Esensi puasa kita juga bersifat materi (jasmani). Lebih menonjolkan pengekangan di tataran makanan dan minuman. Kita merasa sudah lengkap kalau kita bisa menahan lapar dan haus. Fatalnya, kita acapkali mempertontonkannya di muka publik. Kita mau supaya orang lain juga tahu kalau kita sedang berpuasa. Jika demikian, maka esensi puasa kita tidak lebih baik dari pada orang-orang Farisi di zaman Yesus. Kita memiliki esensi puasa yang dangkal. Tidak bermakna. Puasa yang kita jalani sebenarnya tidak membawa perubahan yang baik dalam diri kita. Karena kita masih memakai “baju yang tua” dan “kulit anggur yang tua”. Kita belum benar-benar bersih dan steril karena sikap dan perilaku yang destruktif.

 

Hari ini kita semua diajak untuk memahami esensi puasa yang sebenarnya dalam hidup iman kita. Puasa itu tidak sekedar menahan lapar dan haus. Puasa juga tidak sekedar mengekang segala keinginan-keinginan duniawi. Puasa itu adalah segala niat untuk melaksanakan yang baik dan menghindari segala yang buruk. Puasa itu kesediaan diri untuk menerima segala kebaikan yang masuk dalam diri. Kita harus berani melepaskan segala kemapanan dan kenyamanan yang selama ini telah membelenggu diri kita. Kita harus berani keluar dari kotak hidup yang melelapkan dan memberi kita kenikmatan. Itulah esensi puasa yang hakiki dalam hidup kita. Esensi puasa yang membawa perubahan positif dalam diri. Mari kita mengejawantakan esensi puasa yang sungguh-sungguh menjadikan kita mitra Tuhan untuk membawa perubahan yang positif tidak hanya bagi diri sendiri tetapi juga bagi orang lain. Semoga. ***Atanasius KD Labaona***