Mrk 16: 15-18
Saya mengenal seorang bapak yang dalam banyak hal telah memberi inspirasi
kehidupan yang sangat bermanfaat bagi pribadi saya. Ia seorang pribadi yang
komunikatif, ramah, bijaksana dan rendah hati. Aspek lain yang menonjol dalam
pribadinya adalah kehidupan rohaninya yang mumpuni. Saya melihat ada pojok
rohani khusus di rumahnya yang selalu terang oleh cahaya lilin. Tidak tahu ia
berdoa berapa kali dalam sehari. Tetapi yang pasti, ia sangat intens membangun
komunikasi pribadinya bersama Tuhan. Sang bapak ini dikenal juga sebagai
pribadi karismatik. Karena memiliki keunggulan lain untuk menyembuhkan orang
sakit dengan kekuatan doanya. Banyak orang yang mengalami “stagnasi” dalam
kualitas hidup, datang kepadanya untuk memohon doa penguatan. Ia akan dengan
setia melayani semua orang tanpa pamrih. Baginya, panggilan melayani semua
orang adalah sebuah tugas mulia dari Tuhan yang wajib dilaksanakan. Ia banyak
memberi nasihat kepada saya agar jangan pernah melupakan Tuhan. Sikap percaya
itu harus total. Tidak setengah-setengah.
Pernah saya menyampaikan keluhan kepadanya, mengapa saya gampang merasa
sakit, lemah dan cepat stress dalam hidup. Dengan tegas ia mengatakan bahwa
prosentasi kepercayaan saya kepada Tuhan masih kurang. Saya harus lebih
meningkatkan sikap percaya kepada Tuhan dengan berdoa lebih total dan melayani
orang lain di sekitar saya dengan tulus. Kalau dua hal ini sudah dilakukan maka
kita dapat memiliki kekuatan yang tidak hanya menolong diri kita sendiri,
tetapi juga orang lain yang membutuhkan. Saya tidak tahu persis jenis kekuatan
apa yang beliau maksudkan. Yang saya pahami bahwa kekuatan itu semacam vitamin
yang menambah imunitas agar tubuh tidak gampang sakit. Saya tidak gampang goyah
dalam menghadapi kompleksitas hidup. Saya semakin dikuatkan dalam banyak hal
oleh karena sikap percaya yang total kepada Tuhan. Dengan anugerah yang
terberi, saya juga bisa hadir memberi kesaksian bagi orang lain. Kehadiran saya
bisa menolong, menyembuhkan, menghibur dan membawa berkat bagi mereka yang
membutuhkan. Tentu hal ini terlihat mudah untuk diucapkan. Sang bapak telah
memberi bukti bahwa dalam Tuhan tidak ada yang mustahil. Asalkan kita sungguh
memiliki sikap percaya kepada-Nya.
Yesus telah menegaskan dalam firman-Nya: “Pergilah ke seluruh dunia,
beritakanlah Injil kepada segala makhluk. Tanda-tanda ini akan menyertai orang-orang yang percaya:
mereka akan mengusir setan-setan demi nama-Ku, mereka akan berbicara dalam
bahasa-bahasa yang baru bagi mereka, mereka akan memegang ular, dan sekalipun
mereka minum racun maut, mereka tidak akan mendapat celaka; mereka akan
meletakkan tangannya atas orang sakit, dan orang itu akan sembuh” (Mrk 16:15.17-18). Yesus menekankan
sikap percaya harus pertama-tama dimiliki oleh para murid-Nya. Dengan sikap
percaya yang total kepada-Nya maka mereka akan mendapat segala karunia dari
Tuhan. Aneka karunia tersebut sudah secara eksplisit digambarkan oleh Yesus
dalam sabda-Nya. Tinggal para murid meresapi, menghayati dan mengeksekusi dalam
hidup iman mereka. Pasti ada banyak tantangan, kesulitan, dan halangan yang
mereka hadapi dalam melanjutkan karya penyelamatan yang ditinggalkan oleh
Yesus. Inilah konsekuensi-konsekuensi yang harus mereka pikul sebagai seorang
murid. Namun, segala karunia sebagai sumber kekuatan secara otomatis akan
terberi dalam diri mereka. Pelbagai anugerah yang mereka terima akan semakin
menguatkan perjalanan panggilan untuk meneruskan karya penyelamatan yang telah
mereka terima dari Yesus.
Sikap percaya secara total yang ditandai dengan pelbagai anugerah ajaib dalam
diri para murid tidak hanya tetap tinggal dalam diri mereka. Para murid
kemudian harus memiliki keberanian dan semangat yang bernyala-nyala untuk
memberi kesaksian akan Yesus kepada orang lain. Orang-orang yang tergerak
hatinya dan menjadi percaya akan mengalami juga berkat-berkat khusus seperti
yang dialami ole para rasul. Jadi berkat itu tidak hanya mutlak dimiliki para
murid pertama. Tetapi bisa didapat oleh mereka yang sungguh-sungguh menaru
kepercayaan akan Tuhan. Tanda-tanda ajaib bagi orang-orang yang sungguh percaya
kepada Tuhan inilah yang semakin menambah semangat dan mendorong para pewarta
Injil Tuhan untuk terus berkarya sampai titik darah penghabisan. Bagi mereka
yang belum atau tidak memiliki sikap percaya, cahaya Tuhan akan turun dan senantiasa
memberi kesadaran untuk bertobat.
Pengalaman pertobatan St. Paulus telah memberi catatan emas dalam sejarah
kehidupan iman kristiani. Sebelum berganti nama menjadi Paulus, ia adalah
saulus. Seorang intelektual muda sekaligus panglima Yahudi yang mengobarkan
perang terhadap para pengikuti Yesus. Tidak hanya berkutat dengan ide-ide
cemerlang untuk membuat konsep dan berbagai kebijakan untuk menghambat laju
iman krisntiani, Saulus juga turun langsung mengeksekusi berbagai rencana jahat
untuk meredam ajaran agama Kristen dan menghabisi para pengikutnya. Namun Tuhan
memiliki rencana lain dalam diri Saulus. Dalam perjalanan ke Damsyik untuk
mengejar para pengikut Yesus, Saulus mengalami suatu pengalaman ajaib yang
merubah seluruh gerak hidupnya secara radikal. Ia jatuh ke tanah dari kudanya
oleh karena seberkas cahaya Tuhan yang menerpa wajahnya. Dalam penglihatannya,
Tuhan memperkenalkan diri-Nya secara langsung dan meminta Saulus untuk menjadi
laskarnya yang setia. Saulus pun berganti nama menjadi Paulus. Sebuah perubahan
nama yang menandai perubahan sikap Paulus untuk percaya dengan sungguh-sungguh
kepada Tuhan. Percaya tidak hanya dalam kata-kata. Namun dalam sikap hidupnya
yang militan, Paulus mampu membawa banyak orang untuk bertobat dan percaya kepada
Tuhan.
Sikap percaya dengan sungguh-sungguh kepada Tuhan menjadi sebuah nilai yang
mahal harganya di zaman ini. Banyak orang Katolik yang entah secara pribadi
maupun publik tidak segan-segan mengkampanyekan diri mereka sebagai seorang
pengikut Yesus yang setia. Mereka rajin berdoa. Setia mengumpulkan derma di
gereja. Mereka juga berlaku seolah-olah menjadi makhluk yang suci di hadapan
Tuhan. Tanpa beban mereka menjustifikasi orang lain sebagai orang yang bersalah
atau berdosa. Mereka tanpa malu memberi nasihat dan mencari jalan keluar. Itu
semua hanya kamuflase diri. Mereka berusaha menyamarkan jati diri mereka yang
sesungguhnya. Mereka kelihatan sungguh-sungguh beriman atau percaya kepada
Tuhan. Namun sesungguhnya tidak seperti itu. Hati mereka jauh dari Allah.
Mereka tidak memiliki kepercayaan yang teguh kepada Tuhan. Orang-orang beriman
dangkal ini terkurung dalam ego untuk mencari keuntungan pribadi semata. Mereka
menampilkan diri seolah-olah beriman kepada Tuhan hanya untuk mendongkel atau
mencari popularitas diri. Mereka juga sering memanfaatkan orang lain untuk
mengeruk keuntungan secara ekonomi. Mereka mendapatkan kekayaan atau harta
secara tidak halal. Mereka mengambil dari bagian yang seharusnya bukan menjadi
milik atau hak mereka. Mereka menipu orang lain karena itu adalah satu-satunya
jalan untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan.
Hari ini kita semua diingatkan untuk membangun sikap percaya dengan
sungguh-sungguh kepada Tuhan. Sikap percaya tidak hanya dengan kata-kata
kosong. Sikap percaya yang tidak dilabeli oleh sikap-sikap munafik. Sikap
percaya yang total berarti sikap percaya yang keluar dari kerendahan hati dan
ketulusan jiwa. Kita tidak hanya berdoa dengan penuh penyerahan diri, memberi
derma dengan ketulusan hati, tetapi mampu menjadi saksi-saksi hidup bagi Tuhan
dalam setiap tutur kata dan perbuatan yang membawa kedamaian, kegembiraan, dan
penyembuhan. Tidak hanya bagi diri sendiri tetapi bagi orang lain yang
membutuhkan. Itulah berkat atau anugerah berlimpah dari sikap percaya yang total
kepada Tuhan. Amin. ***Atanasius KD Labaona***