Rabu, 01 Maret 2023

Mengutamakan Harta Sorgawi

Luk 6:20-26

           

            Pertanyaan eksistensial tentang tujuan dari kehidupan manusia, acapkali dijawab dengan jawaban yang umum dan normatif. Iya, manusia hidup tentu saja untuk mencapai kebahagiaan dalam hidupnya. Tidak ada seorang pun manusia yang tidak mau mencapai kebahagiaan dalam hidup. Persoalannya adalah kebahagiaan yang memiliki model dan karakteristik seperti apa. Mulai dari aspek yang bersifat materi, jasmani, atau fisik sampai kepada aspek yang bersifat non materi, metafisik, atau spiritual terdeskripsi maksud kebahagiaan masing-masing individu, kelompok dan golongan. Ada orang yang merasa bahagia kalau memiliki harta dan kekayaan. Ada banyak uang, rumah yang bagus, motor dan mobil juga tersedia. Saya pernah membaca tulisan di sebuah mobil yang berbunyi “ada uang masalah selesai”. Uang dianggap sebagai solusi dari pelbagai dinamika atau kompleksitas kehidupan yang terjadi. Saya pikir sah-sah saja orang memiliki persepsi seperti ini.

 

            Selain harta dan kekayaan duniawi, ada segelintir orang yang merasa bahagia karena memiliki harta atau kekayaan secara rohani atau spiritual. Ia tidak peduli apakah ia memiliki harta kekayaan duniawi atau tidak. Yang terpenting dalam kehidupannya adalah menjadi baik bagi diri sendiri dan orang lain. Saya pernah membaca motto seorang sahabat, “be yourself, jadilah yang terbaik dalam hidupmu”. Menarik sekalih motto ini sekaligus filosofi kehidupan. Bagi sang sahabat, harta dan kekayaan duniawi memang penting untuk menunjang kehidupan dunia. Tetapi yang paling penting adalah mewujudkan kebaikan, tidak saja bagi diri sendiri, tetapi juga bagi orang lain. Inilah esensi tujuan kebahagiaan menurut sahabat saya. Memang terdengar sangat ideal. Namun dalam kehidupan hal pokok yang menjadi idealisme perlu ditanam dan digaungkan. Walaupun dalam kenyataan, sangat sulit kita mewujdukannya karena terbentur dengan aneka kepentingan, ambisi, dan kesenangan pribadi.

 

            Sabda bahagia  yang diucapkan Yesus dalam bacaan Injil hari ini (Luk 6:20-26) ditujukan kepada mereka yang masuk dalam kategori miskin, lapar, menangis, dan dianiaya. Selain itu, Yesus juga mengecam perilaku orang-orang yang kaya, kenyang, tertawa, dan suka dipuji. Orang miskin yang disebut dalam bacaan Injil, tidak hanya miskin secara materi tetapi kehidupannya sangat bergantung kepada orang lain. Mengapa? Karena mereka hidup dalam suasana penindasan dan direndahkan. Yesus memandang para murid dan orang-orang yang mengikuti-Nya sebagai orang miskin yang berbahagia karena mereka orang-orang sederhana dan rendah hati yang memiliki hati yang terbuka pada sabda dan pengajaran-Nya. Kemudian, siapakah orang lapar yang dimaksudkan oleh Yesus? Mereka adalah orang-orang yang sedang mendengar-Nya saat itu. Mereka tidak memiliki apa-apa untuk dimakan. Sekarang mereka memasuki saat Mesianis dimana mereka akan ikut dalam perjamuan yang memuaskan. Mereka tidak akan merasa lapar lagi.

 

            Mereka yang menangis. Siapakah orang-orang yang menangis? Mereka yang mengalami penderitaan karena kemiskinan akibat situasi sosial. Mereka juga yang menderita karena mengimani Kristus. Yesus menjanjikan sukacita Mesianis dimana mereka semua akan tertawa. Mereka yang mengalami penganiayaan karena nama Yesus Kristus. Yesus mengetahui bahwa di antara mereka yang mendengar-Nya mengalami penderitaan tersendiri. Di samping mengucapkan Sabda Bahagia kepada kaum miskin, yang lapar, menangis dan dianiaya, Yesus juga mengecam orang-orang yang mendengar-nya tetapi hati mereka masih tertutup untuk menerima sesama yang miskin, lapar, menangis, dan dianiaya. Memang tidak dapat dipungkiri bahwa kekayaan, kepuasan, kepemilikan harta duniawi dan hormat akan membawa orang menutup dirinya terhadap sesama dan Tuhan sendiri. Orang tidak lagi mengandalkan Tuhan dan membuka diri kepada sesama. Orang kaya dalam pikiran penginjil Lukas adalah mereka yang puas dengan semua kebutuhan hidupnya sehingga tidak lagi membutuhkan Tuhan dan sesama.

 

            Sebenarnya Yesus tidak mengkritik apalagi menyalahkan harta dan kekayaan duniawi yang dipunyai oleh setiap orang. Karena setiap orang memiliki hak dan tanggung jawab pribadi atas kehidupannya sendiri untuk menjadi lebih mapan dan kaya. Yang menjadi masalah adalah perilaku sosial dari orang-orang mapan secara ekonomi yang tidak memiliki kepekaan dan tanggungjawab sosial dalam hidupnya. Mereka bersikap apatis dan cenderung tertawa di atas penderitaan orang lain. Begitu juga dengan orang miskin secara finansial. Tidak otomatis mereka mendapatkan kebahagiaan seperti yang dinyatakan oleh Yesus. Bisa jadi mereka bersikap berlawanan dengan kehendak Tuhan. Orang sering mengatakan “sudah miskin, sombong pula”.

           

            Bagi Yesus, entah itu orang miskin atau pun orang kaya, semuanya memiliki derajat yang sama di mata-Nya. Kekayaan atau harta duniawi memang penting untuk memberi jaminan atas kehidupan duniawi. Namun di atasnya, ada kekayaan atau harta sorgawi yang menjadi aspek pertama dan terutama dalam kehidupan. Setiap orang beriman, entah orang kaya atau miskin, selalu diajarkan, diarahkan, dan dibimbing untuk mencari harta atau kekayaan sorgawi. Hendaknya kita selalu memiliki kerendahan hati di hadapan Tuhan untuk mencari harta sorgawi di dalam diri-Nya. Baik dalam segala kekurangan atau pun dalam kelebihan yang kita miliki, senantiasa kita memiliki kepekaan dan tanggung jawab sosial untuk berbagi dengan sesama. Terutama bagi mereka yang sedang sakit, menderita, dan tertindas dalam kehidupan.