Luk 12:39-48
Secara pribadi saya menyukai dan cukup intens
melakukan kegiatan olahraga di tempat gym. Bagi saya, jenis olahraga di tempat
gym tidak hanya mengolah bentuk tubuh menjadi menarik dan menjaga kebugaran
atau ketahanan fisik. Secara psikis atau mental, olahraga di tempat gym
membentuk pribadi saya menjadi pribadi yang matang dan tangguh. Karena di
tempat gym, kita tidak memiliki lawan bertanding seperti kebanyakan jenis
olahraga lainnya. Lawan kita sesungguhnya adalah diri kita sendiri. Kita harus
mampu mengangkat beban yang berat dan menahan rasa sakit yang ditimbulkan. Di
sinilah letak inti pembelajarannya. Saya mau berolahraga demi menjaga kesehatan
fisik dan mental. Secara fisik tentu saya memiliki imun tubuh yang semakin
baik. Namun pula secara mental, saya sebenarnya sementara mendidik diri untuk
lebih bijak dan matang mengelola pelbagai konflik hidup yang saya hadapi. Saya
lebih bersikap sabar, tidak cepat reaktif secara emosional, dan mau menjadi
seorang fighter (pejuang, petarung),
tidak cepat putus asa, tahan uji dalam menghadapi berbagai situasi hidup yang
sulit. Kemauan untuk berolahraga menjadi niat dan komitmen pribadi bagi saya
untuk bersikap waspada atau berjaga-jaga dalam kehidupan. Sehingga minimal saya
memiliki ketahanan fisik dan psikis yang baik manakala diterpa penyakit.
Sikap waspada atau berjaga-jaga juga dapat
dilakukan dalam banyak hal. Seorang pelajar tentu tidak perlu menunggu saat
test atau ujian baru belajar. Setiap hari pasti ada waktu khusus yang disiapkan
untuk belajar. Belajar tidak hanya menyiapkan diri untuk baik secara akademik
atau ilmu pengetahuan di sekolah namun belajar untuk menjalani kehidupan
sekarang dan ke depannya secara lebih baik pula (non scholae sed vitae discimus). Seorang petani juga harus
mengorientasi diri untuk bersikap waspada. Ia harus segera menyiapkan ladang
dan bibit yang baik untuk menyambut musim tanam pada saat hujan nanti. Seorang
pegawai di lingkup instansi, lembaga, atau organisasi apa pun, pasti menempa
diri untuk bersikap waspada. Dunia kerja yang ia miliki tidak saja menjadi
ladang profesi untuk menafkahi kebutuhan hidup, tetapi menjadi bentuk
aktualisasi diri. Ia akan terus belajar untuk mengasah diri. Mengasah kemampuan
intelektual, kemampuan emosi dan spiritual agar bisa memberikan kontribusi yang
positif bagi lembaga dan orang-orang yang dilayani.
Sikap waspada ternyata sungguh menjadi elemen
penting dalam sejarah manusia. Sejak dahulu, pada masa Yesus pun, sikap waspada
sudah digaungkan. Kepada para murid dan orang-orang yang hadir dalam
pengajaran-Nya, Yesus berkata: “Hendaklah kamu juga siap sedia, karena Anak
Manusia datang pada saat yang tidak kamu sangkakan” (Luk 12:40). Yesus hendak
mengingatkan setiap orang agar mereka perlu bersikap waspada dalam kehidupan.
Bersikap waspada dengan model seperti apa? Bersikap waspada dengan selalu hidup
dalam kehendak Allah. Bersikap waspada untuk tidak jatuh dalam kesesatan. Entah
itu kesesatan berpikir, atau pun kesesatan dalam tindakan.
Kehadiran Yesus di muka bumi memiliki tujuan untuk
mengingatkan manusia agar menempa diri dalam sikap waspada. Yang telah jatuh
dalam kesalahan, kekeliruan dan dosa diarahkan untuk segera memperbaiki diri
dan kembali ke jalan yang benar. Jatuh itu pengalaman yang biasa. Tetapi
menjadi luar biasa apabila manusia dapat bangkit dan menempa diri menjadi lebih
baik. Yesus sungguh sadar betapa banyak kejahatan dan kesesatan hidup yang
terjadi pada masa-Nya. Banyak orang tidak lagi memperlakukan sesama sebagai
saudaranya. Masing-masing orang hanya mengutamakan kepentingan pribadi dan
kelompoknya. Bahkan kejahatan dan kesesatan itu sudah masuk dalam ruang yang
paling religus yakni ruang agama. Banyak pemuka agama yang memanfaatkan status
dan dan jabatannya untuk mengambil keuntungang pribadi.
Peringatan Yesus untuk hidup dalam sikap waspada
memiliki alasan-alasan mendasar. Pertama, manusia dapat memenuhi hukum kasih
untuk mengasihi Allah dan sesamanya. Kedua, alasan keselamatan di hari
penghakiman. Secara implisit Yesus menandaskan bahwa kedatangan Sang Hakim itu
seperti pencuri. Tidak pernah diketahui kapan ia akan datang dan bereaksi.
Tetapi yang jelas bahwa Ia akan datang pada hari yang telah ditentukan.
Konsekuensi yang terjadi hanya ada dua. Manusia yang bersikap waspada pasti
mendapat keselamatan. Dan sebaliknya, yang bersikap tidak waspada akan mendapat
ketidakselamatan. Manusia tetap diberi tawaran untuk mendapat keselamatan
selama ia masih berada di atas dunia. Hal yang berbeda akan terjadi apabila
manusia sudah meninggalkan dunia fana. Karena yang terjadi adalah tidak ada
tawaran atau toleransi di kehidupan selanjutnya. Hanya ada satu pilihan yang
dijalani. Mendapat keselamatan atau ketidakselamatan.
Sebagai makhluk ciptaan Tuhan di muka bumi, kita
telah dianugerahi dengan banyak kemampuan atau talenta. Kemampuan atau talenta
itu pada gilirannya akan menghantar kita untuk hidup sebagai manusia yang baik
dan benar. Kita dapat bersumbangsih dalam segala dimensi kehidupan melalui
talenta atau kemampuan yang telah diberikan Tuhan kepada kita. Dalam tugas dan
pelayanan yang kita lakukan, sebenarnya ada titipan ilahi yang sementara
diberikan Tuhan kepada kita. Tuhan menghendaki agar melalui bakat, kemampuan
atau talenta yang dimiliki, kita dapat mengarahkan diri untuk berpartisipasi
mewujudkan karya agung Allah di tengah dunia. Memang tidak bisa dipungkiri
bahwa seringkali kita lalai menjaga amanat agung yang telah diberikan Tuhan
kepada kita. Acapkali kita bersikap ceroboh, masa bodoh dan tidak mau tahu.
Kita bertindak atas nama kebaikan dan kebenaran yang berpusat pada diri dan
kelompok. Kita mengabaikan jalan kebaikan dan kebenaran yang telah ditentukan
oleh Tuhan sendiri.
Sikap waspada menjadi jalan kebijaksanaan bagi kita
untuk melakukan sikap mawas diri. Kita perlu bertanya dalam hati kita
masing-masing. Sejauh mana kita menghidupi jalan kebaikan dan kebenaran yang
diwartakan oleh Tuhan. Dengan menyadari diri yang sebenarnya, kita boleh menata
diri kembali untuk menjadi lebih baik dan benar. Kita tidak menyia-menyiakan
segala potensi dan kemampuan pribadi. Karena Tuhan telah memberinya sebagai
sarana bagi kita untuk membawa kebaikan dan keselamatan bagi banyak orang.
Sikap waspada menuntun kita untuk dapat memberi diri dalam hidup, tugas, karya
dan pelayanan. Mari kita senantiasa menghidupi sikap waspada dalam hidup dengan
tetap selalu berada dalam jalan panggilan Tuhan. Amin. ***AKD***