Senin, 25 Oktober 2021

Menghidupi Sikap Waspada

Luk 12:39-48

           

Secara pribadi saya menyukai dan cukup intens melakukan kegiatan olahraga di tempat gym. Bagi saya, jenis olahraga di tempat gym tidak hanya mengolah bentuk tubuh menjadi menarik dan menjaga kebugaran atau ketahanan fisik. Secara psikis atau mental, olahraga di tempat gym membentuk pribadi saya menjadi pribadi yang matang dan tangguh. Karena di tempat gym, kita tidak memiliki lawan bertanding seperti kebanyakan jenis olahraga lainnya. Lawan kita sesungguhnya adalah diri kita sendiri. Kita harus mampu mengangkat beban yang berat dan menahan rasa sakit yang ditimbulkan. Di sinilah letak inti pembelajarannya. Saya mau berolahraga demi menjaga kesehatan fisik dan mental. Secara fisik tentu saya memiliki imun tubuh yang semakin baik. Namun pula secara mental, saya sebenarnya sementara mendidik diri untuk lebih bijak dan matang mengelola pelbagai konflik hidup yang saya hadapi. Saya lebih bersikap sabar, tidak cepat reaktif secara emosional, dan mau menjadi seorang fighter (pejuang, petarung), tidak cepat putus asa, tahan uji dalam menghadapi berbagai situasi hidup yang sulit. Kemauan untuk berolahraga menjadi niat dan komitmen pribadi bagi saya untuk bersikap waspada atau berjaga-jaga dalam kehidupan. Sehingga minimal saya memiliki ketahanan fisik dan psikis yang baik manakala diterpa penyakit.

 

Sikap waspada atau berjaga-jaga juga dapat dilakukan dalam banyak hal. Seorang pelajar tentu tidak perlu menunggu saat test atau ujian baru belajar. Setiap hari pasti ada waktu khusus yang disiapkan untuk belajar. Belajar tidak hanya menyiapkan diri untuk baik secara akademik atau ilmu pengetahuan di sekolah namun belajar untuk menjalani kehidupan sekarang dan ke depannya secara lebih baik pula (non scholae sed vitae discimus). Seorang petani juga harus mengorientasi diri untuk bersikap waspada. Ia harus segera menyiapkan ladang dan bibit yang baik untuk menyambut musim tanam pada saat hujan nanti. Seorang pegawai di lingkup instansi, lembaga, atau organisasi apa pun, pasti menempa diri untuk bersikap waspada. Dunia kerja yang ia miliki tidak saja menjadi ladang profesi untuk menafkahi kebutuhan hidup, tetapi menjadi bentuk aktualisasi diri. Ia akan terus belajar untuk mengasah diri. Mengasah kemampuan intelektual, kemampuan emosi dan spiritual agar bisa memberikan kontribusi yang positif bagi lembaga dan orang-orang yang dilayani.

 

Sikap waspada ternyata sungguh menjadi elemen penting dalam sejarah manusia. Sejak dahulu, pada masa Yesus pun, sikap waspada sudah digaungkan. Kepada para murid dan orang-orang yang hadir dalam pengajaran-Nya, Yesus berkata: “Hendaklah kamu juga siap sedia, karena Anak Manusia datang pada saat yang tidak kamu sangkakan” (Luk 12:40). Yesus hendak mengingatkan setiap orang agar mereka perlu bersikap waspada dalam kehidupan. Bersikap waspada dengan model seperti apa? Bersikap waspada dengan selalu hidup dalam kehendak Allah. Bersikap waspada untuk tidak jatuh dalam kesesatan. Entah itu kesesatan berpikir, atau pun kesesatan dalam tindakan.

Kehadiran Yesus di muka bumi memiliki tujuan untuk mengingatkan manusia agar menempa diri dalam sikap waspada. Yang telah jatuh dalam kesalahan, kekeliruan dan dosa diarahkan untuk segera memperbaiki diri dan kembali ke jalan yang benar. Jatuh itu pengalaman yang biasa. Tetapi menjadi luar biasa apabila manusia dapat bangkit dan menempa diri menjadi lebih baik. Yesus sungguh sadar betapa banyak kejahatan dan kesesatan hidup yang terjadi pada masa-Nya. Banyak orang tidak lagi memperlakukan sesama sebagai saudaranya. Masing-masing orang hanya mengutamakan kepentingan pribadi dan kelompoknya. Bahkan kejahatan dan kesesatan itu sudah masuk dalam ruang yang paling religus yakni ruang agama. Banyak pemuka agama yang memanfaatkan status dan dan jabatannya untuk mengambil keuntungang pribadi.

 

Peringatan Yesus untuk hidup dalam sikap waspada memiliki alasan-alasan mendasar. Pertama, manusia dapat memenuhi hukum kasih untuk mengasihi Allah dan sesamanya. Kedua, alasan keselamatan di hari penghakiman. Secara implisit Yesus menandaskan bahwa kedatangan Sang Hakim itu seperti pencuri. Tidak pernah diketahui kapan ia akan datang dan bereaksi. Tetapi yang jelas bahwa Ia akan datang pada hari yang telah ditentukan. Konsekuensi yang terjadi hanya ada dua. Manusia yang bersikap waspada pasti mendapat keselamatan. Dan sebaliknya, yang bersikap tidak waspada akan mendapat ketidakselamatan. Manusia tetap diberi tawaran untuk mendapat keselamatan selama ia masih berada di atas dunia. Hal yang berbeda akan terjadi apabila manusia sudah meninggalkan dunia fana. Karena yang terjadi adalah tidak ada tawaran atau toleransi di kehidupan selanjutnya. Hanya ada satu pilihan yang dijalani. Mendapat keselamatan atau ketidakselamatan.

 

Sebagai makhluk ciptaan Tuhan di muka bumi, kita telah dianugerahi dengan banyak kemampuan atau talenta. Kemampuan atau talenta itu pada gilirannya akan menghantar kita untuk hidup sebagai manusia yang baik dan benar. Kita dapat bersumbangsih dalam segala dimensi kehidupan melalui talenta atau kemampuan yang telah diberikan Tuhan kepada kita. Dalam tugas dan pelayanan yang kita lakukan, sebenarnya ada titipan ilahi yang sementara diberikan Tuhan kepada kita. Tuhan menghendaki agar melalui bakat, kemampuan atau talenta yang dimiliki, kita dapat mengarahkan diri untuk berpartisipasi mewujudkan karya agung Allah di tengah dunia. Memang tidak bisa dipungkiri bahwa seringkali kita lalai menjaga amanat agung yang telah diberikan Tuhan kepada kita. Acapkali kita bersikap ceroboh, masa bodoh dan tidak mau tahu. Kita bertindak atas nama kebaikan dan kebenaran yang berpusat pada diri dan kelompok. Kita mengabaikan jalan kebaikan dan kebenaran yang telah ditentukan oleh Tuhan sendiri.

 

Sikap waspada menjadi jalan kebijaksanaan bagi kita untuk melakukan sikap mawas diri. Kita perlu bertanya dalam hati kita masing-masing. Sejauh mana kita menghidupi jalan kebaikan dan kebenaran yang diwartakan oleh Tuhan. Dengan menyadari diri yang sebenarnya, kita boleh menata diri kembali untuk menjadi lebih baik dan benar. Kita tidak menyia-menyiakan segala potensi dan kemampuan pribadi. Karena Tuhan telah memberinya sebagai sarana bagi kita untuk membawa kebaikan dan keselamatan bagi banyak orang. Sikap waspada menuntun kita untuk dapat memberi diri dalam hidup, tugas, karya dan pelayanan. Mari kita senantiasa menghidupi sikap waspada dalam hidup dengan tetap selalu berada dalam jalan panggilan Tuhan. Amin. ***AKD***