Minggu, 27 Juni 2021

Berani Keluar Dari Zona Nyaman

 

Mat 8:18-22

Hidup adalah sebuah pilihan. Dan setiap pilihan pasti ada segala risiko yang harus ditanggung. Ada plus dan minusnya. Ada untung dan rugi. Ada pengalaman positif dan negatif yang mesti dirasakan. Secara alamiah, tentu saja ada kecenderungan dalam diri manusia untuk menentukan sebuah pilihan hidup yang paling banyak membawa keuntungan, kebaikan dan kenikmatan. Orang tidak suka mengalami tantangan, kesulitan atau hal yang memberatkan. Kalau pun memang ada risiko dari setiap pilihan, orang pasti akan memilih pilihan hidup yang paling kurang atau sedikit kadar tantangan atau tingkat kesulitannya.

 

Dalam bacaan Injil (Mat 8:18-22), Yesus membeberkan pilihan hidup yang tidak gampang untuk mengikuti diri-Nya. Berhadapan dengan seorang ahli taurat yang akan mengikuti Dia, Yesus berkata: “Serigala mempunyai liang dan burung mempunyai sarang, tetapi Anak Manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepala-Nya” (Mat 8:20). Dengan analogi tersebut, Yesus menegaskan bahwa untuk mengikuti diri-Nya, orang harus meninggalkan “zona nyamannya”. Orang harus siap menghadapi pelbagai tantangan dan kesulitan hidup. Tidak ada fasilitas dan kemudahan yang didapat ketika mengikuti Yesus. Mereka tidak akan cukup memiliki makanan, pakaian, atau pun rumah sebagai tempat persinggahan. Mereka tidak akan menjadi terkenal dan dipuja-puja bakh seorang artis atau figur publik. Malahan, mereka akan siap menghadapi arus kencang yang berlawanan. Mereka akan siap dibenci, difitnah, dikejar, ditangkap, dan disiksa oleh karena nama Yesus.

 

Situasi yang tidak jauh berbeda disampaikan oleh Yesus kepada salah seorang murid yang hendak mengikuti diri-Nya tetapi masih harus pergi terlebih dahulu menguburkan ayahnya. Yesus berkata kepadanya: “Ikutlah Aku dan biarlah orang-orang mati menguburkan orang-orang mati mereka” (Mat 8:22). Sepintas kelihatan Yesus tidak memiliki rasa empati sama sekalih terhadap seorang murid yang sementara berduka. Namun ada nilai hakiki yang hendak disampaikan-Nya bahwa untuk mengikuti Dia, tidak ada sikap tawar menawar. Tidak ada sikap kompromi dan toleransi. Orang harus memiliki sikap fokus, total dan tulus ketika sudah menjatuhkan pilihan untuk mengikuti diri-Nya. Orang tidak boleh memiliki keterikatan dengan dunia termasuk keterikatan dengan sanak keluarganya.

 

Dengan demikian, untuk mengikuti Yesus, menurut Penginjil Matius, ada dua hal yang harus dipahami, diresapi, dan dijiwai dalam hidup. Pertama, orang harus siap menghadapi segala tantangan dan kesulitan hidup. Kedua, orang harus berani meninggalkan segala keterikatan dengan dunia, entah itu bersifat materi atau ikatan keluarga. Ini pilihan hidup yang tidak gampang. Sebuah pilihan yang berat. Pilihan yang tidak masuk akal kalau dilihat dari pandangan manusia. Tetapi demi tercapainya misi kerajaan Allah dan keselamatan seluruh makhluk, inilah sebuah pilihan hidup yang paling sejati. Orang harus keluar dari zona nyaman, untuk kemudian mereguk kebaikan dan keselamatan hidup kekal dalam segala tantangan, kesulitan, dan sikap mati raga.

 

Hidup dalam zona nyaman di tengah dunia ternyata paling banyak diingini dan kehendaki oleh setiap manusia. Ada ciri-ciri yang menggambarkan bagaimana manusia susah melepaskan zona nyaman yang telah sekian lama memberikan banyak kebaikan dan kenikmatan dalam hidup. Ketika orang sudah menjadi kaya secara finansial, mereka susah berkontribusi dengan sesama saudara yang hidupnya jauh di bawah garis kemiskinan. Secara sosial misalnya, ketika orang memiliki jabatan atau status yang mentereng, sangat jarang dari kelompok orang ini memiliki semangat pelayanan dan kerendahan hati. Yang terjadi adalah mereka ingin dilayani, dihormati, dan bahkan disembah. Mereka juga bisa memanfaatkan jabatan atau kuasa yang dimiliki untuk menindas orang lain. Atau memanfaatkan orang kecil, orang yang tidak memiliki pengaruh, untuk mencari keuntungan ekonomi dan mendongkrak publisitas pribadi.

 

Orang yang berada dalam zona nyaman cenderung juga bersikap egois. Lebih mementingkan diri sendiri dan keluarganya. Mereka memiliki prinsip hidup, “Kita harus kenyang duluan, sebelum melihat orang lain”. Dengan pelbagai cara dan menghalalkan segala cara, mereka bekerja mencari untung hanya demi kepentingan pribadi dan keluarganya. Mereka tidak memiliki kepekaan nurani untuk melihat realitas yang kurang menguntungkan di sekitar mereka. Hidup mereka seperti menara gading. Hanya baik dan indah bagi diri sendiri, dan bukan untuk orang lain. Mereka tidak suka menghadapi tantangan dan kesulitan dalam hidupnya. Apabila timbul persoalan, sekalipun diakibatkan oleh diri sendiri, mereka sangat gampang mencuci tangan, dan melemparkan kesalahan itu kepada orang lain. Orang yang berada dalam zona nyaman, biasanya tidak mau mengambil risiko yang memberatkan. Mereka tidak mau bertanggungjawab atas segala konsekuensi buruk, walaupun mereka sangat ingin mengambil keuntungan dan kenikmatan di dalam setiap pilihan hidup yang dijalani.

 

Hari ini, Yesus memberi pengajaran yang sangat berarti bagi kita semua. Kita harus keluar dari zona nyaman yang menghipnotis dan meninabobokan sehingga menyebabkan hidup kita jauh dari kehendak Allah. Sebagai seorang pengikut Yesus di era ini, kita tidak hanya cukup secara formal dan legal mengaku diri sebagai pengikut-Nya. Kita tidak hanya menjadi orang Katolik secara administratif semata. Kita juga tidak hanya secara lisan mengaku diri sebagai orang Katolik. Kita harus menghidupi nilai-nilai kristiani seperti semangat pelayanan, pengorbanan, kejujuran, kesederhanaan, dan kerendahan hati dalam tugas dan panggilan kita di tengah dunia. Memang ada banyak tantangan, kesulitan, dan keterpurukan hidup yang pasti kita alami sebagai pengikut Tuhan. Tetapi kita tetap yakin bahwa Tuhan senantiasa menyertai hidup kita. Segala hal yang kurang pasti disempurnakan oleh-Nya. Segala berkat akan menyertai setiap kesulitan dan keterpurukan hidup yang kita jalani dalam nama-Nya.

 

Hari ini kita merayakan pesta St. Ireneus, seorang Yunani, yang mengabdikan dirinya sebagai imam sekaligus uskup di kota Lyons, Prancis. Semoga keteladanan hidupnya yang penuh semangat pelayanan, kesetiaan, kesabaran, dan pantang menyerah merasuki seluruh hidup dan panggilan kita sebagai seorang murid Yesus. Amin. ***AKD***

Selasa, 15 Juni 2021

Melakukan Hal Baik Dengan Tulus

                                                                   Mat 6:1-6, 16-18

 

Salah satu kebutuhan dasar manusia adalah membutuhkan pengakuan atau penghargaan orang lain. Pengakuan atau penghargaan tidak saja diberikan dalam bentuk fisik atau materi. Secara psikologi, manusia juga butuh pengakuan atau penghargaan. Ia ingin jati dirinya dihargai, keberadaannya dihargai, perbuatan atau tindakannya dihargai, serta segala hasil karya atau ciptaannya turut serta pula ingin diberi pengakuan atau penghargaan dari orang lain.

 

Bertolak dari tesis dasar di atas, manusia dalam kehidupannya selalu ingin menunjukkan atau memamerkan segala hal yang ada pada dirinya. Bahkan, hal-hal yang bersifat pribadi pun tidak luput dari pertunjukkan atau pameran. Manusia tidak bisa lagi membedakan mana ruang publik dan ruang privat. Segala hal ditampilkan dan ditonjolkan agar orang lain juga bisa melihat, menyukai, dan memberi pengakuan. Contoh yang paling nyata kita saksikan di ruang media sosial seperti FB, Twitter, Instragram, dan lainnya.  Semua hal dan aktivitas manusia baik yang bersifat umum maupun pribadi dimuat agar bisa disukai dan mendapat komentar yang banyak. Tidak jarang, aktivitas pribadi dalam aspek keagamaan seperti berdoa, memberi derma, dan melakukan puasa pun diposting di medsos sehingga mendapat perhatian publik. Manusia semakin merasa senang, puas, dan bangga ketika orang lain mengakui atau memberi penghargaan atasnya.

 

Dalam bacaan Injil pada hari ini, ada tiga komponen utama dalam hidup keagamaan yang ditekankan oleh Yesus supaya tidak boleh dilakukan di hadapan publik. Tiga komponen itu yakni sedekah, doa, dan puasa. Yesus pun memberi ultimatum bahwa apabila ketiga aspek keagamaan itu dilakukan dengan maksud dan tujuan supaya diketahui oleh orang banyak maka orang-orang yang mempraktekkannya tidak mendapat upah dari Bapa yang ada di sorga. Larangan yang dilontarkan oleh Yesus tentu memiliki pendasaran yang kuat. Ada banyak contoh kasus kala itu yang memperlihatkan bahwa banyak orang beragama yang melakukan hidup keagamaannya seperti berdoa, berderma, dan berpuasa, dengan maksud utama supaya dilihat, disukai, dan diakui oleh banyak orang. Jadi bukan tindakan baiknya yang ditolak Yesus. Tetapi niat dan tujuannya yang ditolak oleh Yesus.

 

Dan orientasi utama untuk mengejar pamor dan prestise diri dari hidup keagamaan ini sungguh dikecam oleh Yesus. Yesus tidak menghendaki supaya orang-orang berlaku munafik di hadapan Allah. Berpura-pura baik dan suci demi kepentingan tertentu, dan mengabaikan sikap tulus dan total kepada Tuhan. Yang dituntut oleh Yesus adalah orang harus menunjukkan sikap-sikap keagamaan yang baik, tulus dan total kepada Allah. Kualifikasi dasar dari sikap-sikap keagamaan yang baik menurut Yesus adalah tidak perlu dipamerkan di muka umum. Apalagi mengharapkan supaya orang lain menyukai, mengagumi dan mengapresiasi apa yang telah kita buat. Itu sungguh jauh dari kehendak Allah.

 

Tentang hidup keagamaan yang mewujud dalam sedekah, doa, dan puasa, Yesus telah memberi garis atau sikap dasar yang patut kita ikuti dan taati. Pertama soal sedekah. Yesus berkata: “Apabila engkau memberi sedekah, janganlah engkau mencanangkan hal itu, seperti yang dilakukan orang munafik di rumah-rumah ibadat dan lorong-lorong, supaya mereka dipuji orang” (Mat 6:2). Memberi sedekah adalah salah satu implementasi hidup iman dalam bidang sosial. Namun tidak semestinya, sikap mulia ini dilakukan dengan tujuan utama untuk menarik keuntungan secara pribadi atau kelompok. Sikap sedekah yang kita lakukan merupakan sebuah bentuk empati dan perhatian agar orang-orang yang berkekurangan bisa mendapatkan keringanan dan kemudahan dalam hidupnya. Sikap sedekah atau derma memang harus kita lakukan sebagai ciri khas hidup kristiani. Tetapi sikap sedekah itu harus dilakukan dengan penuh totalitas dan tanpa mengharapkan imbalan.

 

Kedua, wujud doa. Doa adalah suatu bentuk ekspresi iman yang ditujukan untuk Tuhan. Dalam doa, kita bercakap-cakap mengungkapkan segala hal dan menyerahkan diri secara total dihadapan Tuhan. Namun, alangkah tidak eloknya, apabila kita berdoa dengan intensi utama supaya dilihat dan diakui oleh orang lain. Tentang sikap doa, Yesus berkata: “Jika engkau berdoa, masuklah ke dalam kamarmu, tutuplah pintu dan berdoalah kepada Bapamu yang ada di tempat tersembunyi. Maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu” (Mat 6:6). Yesus mengarahkan agar dalam berdoa, kita seharusnya melakukannya di tempat yang tertutup dan tersembunyi sehingga tidak diketahui oleh orang lain. Karena di tempat yang tertutup dan tersembunyi, ada kualitas doa yang tercipta di sana. Orang-orang lebih memiliki konsentrasi, kerendahan hati, dan totalitas diri untuk melakukannya.

 

Ketiga, entitas puasa. Dalam puasa, orang beriman berusaha sekuat tenaga untuk menahan segala keinginan dan nafsu duniawinya. Nilai dari puasa mendidik orang beragama untuk lebih memiliki sikap sabar, rendah hati, jujur, pengorbanan, dan sebagainya. Berpuasa bukan sekedar gagah-gagahan supaya dilihat dan diakui oleh orang lain. Melakukan puasa adalah sebuah wahana yang mulia, tempat orang-orang beriman semakin mendekatkan dirinya dengan Diri Allah. Oleh karena itu, Yesus berkata: “Apabila engkau berpuasa, minyakilah kepalamu dan cucilah mukamu, supaya jangan dilihat oleh orang bahwa engkau sedang berpuasa, melainkan hanya oleh Bapamu yang ada di tempat tersembunyi” (Mat 6:18).

 

Gugatan Yesus akan sikap munafik orang beragama dalam entitas sedekah, doa, dan puasa sebenarnya mewakili semua hal baik yang telah kita lakukan di masa kini. Bahwa semua hal baik yang kita perbuat tidak sepenuhnya berada pada level atau standar yang telah ditetapkan oleh Tuhan sendiri. Sadar atau tidak, seringkali kita terjebak dalam hidup iman kita, hanya sekedar untuk dilihat, disukai, dan diakui oleh orang lain. Kita lebih merasa senang dan bangga ketika orang lain mengetahui hal-hal baik yang kita lakukan. Anehnya, sebagian dari kita tidak merasa nyaman kalau orang lain tidak mengetahui hal baik tersebut. Kita lalu mempostingnya di media sosial untuk mendapat like dan komentar yang banyak. Kemudian, kita merasa tersanjung karena mendapat pujian dan pengakuan.

 

Hal ini yang menurut Yesus perlu dikoreksi. Sepanjang hal-hal baik itu dilakukan dengan niat yang tulus dan tidak memiliki maksud untuk mengambil keuntungan pribadi, saya kira tidak ada masalah. Bahkan diposting di medsos pun dianjurkan. Asalkan postingan itu memiliki niat yang baik untuk menggugah dan mencerahkan orang lain untuk berbuat baik. Hari ini, hidup iman kita digugat oleh Yesus. Yesus tidak menolak segala hal baik dan benar yang kita lakukan. Yang ditolak oleh Yesus adalah sikap munafik dan tidak tulus. Yesus tidak mau kita memanfaatkan segala perbuatan baik hanya untuk mencari keuntungan; entah keuntungan secara ekonomi, sosial, atau pun politik. Mari kita memperbaiki diri kita dengan melakukan segala hal baik dengan penuh ketulusan, keikhlasan, dan kerendahan hati. Amin. ***AKD***